Rahasianya, Mengapa Kita Banyak Tertawa & Iri Hati Terhadap Sesama

ImageSaudaraku…

Dalam hidup, manakah yang lebih sering kita lakukan? Menangis atau tertawa? Tentu bagi kita yang telah dewasa, tertawa lebih dominan kita lakukan. Berbeda saat kita bayi dan anak-anak dahulu. Bisa jadi tertawa dipicu karena melihat sesuatu yang lucu dan unik serta menggembirakan kita.

Acara-acara komedi dan lawakan di Televisi, lebih menyedot perhatian pemirsa daripada acara-acara yang mengundang tangis seperti muhasabah dan nasihat serta pengajian. Dan bahkan pengajian pun tidak jarang diselingi dengan banyolan dan sejenisnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering kurang mampu menata hati kita saat melihat kesuksesan, keberuntungan dan kejayaan orang- orang di sekeliling kita. Saat mendengar sahabat yang satu profesi dengan kita; naik gaji atau mendapat bonus tertentu dari atasannya atau THR, kita lupa untuk mendo’akannya keberkahan dan kebaikan.

Saat orang lain dikaruniai buah hati, sementara kita belum mendapatkan amanah dari Allah swt berupa anak, padahal kita sudah lama merindukan hadirnya permata hati untuk meramaikan keluarga. Ada desiran kecemburuan yang jika dibiarkan, dapat membahayakan hati kita. Kala melihat seorang saudara yang satu generasi dan waktu merantau di negeri seberang, telah memiliki rumah yang mewah (mepet sawah), beragam warna investasi dan yang senada dengan itu. Terkadang desiran aneh muncul di hati.

Saat melihat rekan-rekan satu usia, telah berbahagia dengan pendamping hidup yang cantik jelita. Sementara kita belum berubah statusnya; masih tetap berani menatap hidup seorang diri. Terkadang iri hati, teramat sulit kita hindari. Terlebih lagi jika salah satu istri mereka adalah orang yang pernah singgah di hati kita.

Dan begitu seterusnya. Banyak sebab yang membuat kita iri hati. Tidak sedikit faktor yang menyebabkan kita hasad terhadap sesama.

Saudaraku..
Apa rahasianya, mengapa kita lebih sering tertawa daripada meneteskan air mata? Dan mengapa kita sulit membentengi kita dari sifat iri hati, hasut, dendam dan yang seirama dengan itu?

Rahasia dan kuncinya? Mari kita bertanya kepada sahabat Nabi saw yang dikenal zuhud dan ahli ibadah;
Abu Darda ra. Di mana ia pernah bertutur:
“Siapa yang banyak mengingat kematian, maka akan berkurang kegembiraannya (tidak banyak tertawa) dan sedikit rasa hasadnya (kepada orang lain).

Jika anda mengenang orang-orang yang telah pergi, coba hitunglah (seolah-olah) anda menjadi salah satu dari mereka. (Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Jadi jawabannya adalah karena kita jarang, sedikit sekali atau nyaris tak pernah mengingat mati. Dan jarang membayangkan bagaimana keadaan kita setelah mati nanti. Kalau belajar dari Nabi saw, beliau setiap malam mengunjungi kuburan Baqi’. Di mana ada sepuluh ribu sahabat dikuburkan di sana. Tujuannya, tentu selain untuk mendo’akan ahli Baqi’, juga untuk mempertebal mengenang kematian.

Lain lagi dengan Ibnu Sammak al Wa’izh, ia menggali kuburan di samping rumahnya. Jika ia rasakan amal ibadahnya berkurang. Atau kwalitas amal-amal ketaatannya menurun, ia turun ke kuburan yang ia gali dan di sana ia membayangkan suram dan ngerinya alam kubur tersebut.

Saudaraku…
Pantas kita senang tertawa terbahak- bahak dan membiarkan hati digenangi iri hati dan hasut. Karena kita jarang mengingat mati dan menghadirkan kengerian alam barzakh yang pasti akan kita lalui. Wallahu a’lam bishawab.

#inspirasi pagi “INDAHNYA BERBAGI” sorry keinggalan lom sempat posting tadi. LIKE dan SHARE ya!
Ada seorang kaya yang mempunyai 19 ekor kerbau, dan 3 orang anak. Mendekati ajalnya, dia membagikan warisan kepada ke tiga anaknya dengan pesan 1/2 untuk anak pertama, 1/4 untuk anak kedua dan 1/5 untuk anak ketiga.

Setelah sang bapak meninggal, ketiga anaknya membagikan kerbau sesuai pesan ayah mereka. Tapi mereka menemukan keganjilan, bahwa masing-masing mereka akan mendapatkan bagian kerbau yang tidak utuh. Masing-masing tidak mau mengalah dan berusaha mendapatkan bagian utuh.

Terdengarlah kabar pertengkaran mereka oleh seorang bapak yang miskin yang punya 1 ekor kerbau. Akhirnya, bapak tersebut menemui mereka, dan bersedia dengan ikhlas memberikan kerbaunya supaya masing-masing mendapat bagian yang utuh.

Anak-anak itu setuju, dan mereka mulai membagi. Anak pertama mendapat 1/2 dari 20 yaitu 10 ekor, anak kedua mendapat 1/4 dari 20 yaitu 5 ekor, anak ketiga 1/5 darr 20 yaitu 4 ekor. Demikianlah masing-masing mendapatkan bagian yang utuh. Dan totalnya adalah 10+5+4=19 sisa 1 ekor, dikembalikan pada bapak tadi.

Ternyata dengan memberi, kita tidak akan kehilangan apa yang menjadi milik kita.. Amazing!!!

Mawar Untuk Ibu

ImageSeorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(Diadaptasi dari: Rose for Mama – C.W. McCall)

Kupinang Engkau Dengan Al-Qur’an

Image

Tepat adzan Isya aku sampai di halaman masjid di sebuah komplek perumahan. Usai memarkirkan sepeda motorku di halaman masjid itu, aku bergegas mengambil air wudhu lalu sholat berjama’ah.
Selepas sholat isya dan ba’diyahnya, aku kembali menuju halaman masjid tempat aku memarkirkan sepeda motorku.
Ada rasa yang mulai tak menentu kala itu. Karena setelah ini aku akan mengunjungi rumah seseorang.
Seseorang yang telah dipilihkan oleh murobbiku, Ustadz Utsman. Seseorang itu adalah Fathiyya. Seorang akhwat lugu nan mempesona serta baik akhlaqnya.
Ia tak banyak bicara dan pandangannya tertunduk jika ada ikhwan disekitarnya. Pakaiannya sederhana, tetapi jilbabnya istimewa. Hampir separuh bagian atas tubuhnya tertutup oleh balutan jilbabnya.

Sebelum meninggalkan halaman masjid itu, aku menyapa seorang jama’ah masjid,
“Assalaamu’alaikum, pak..”
“Wa’alaikumsalaam warohmatulloh..” jawabnya fasih.
“Maaf pak…saya mau tanya, barangkali Bapak tahu rumahnya Fathiyya?”
“Fathiyya yah? Kamu tahu siapa orangtuanya?”
“Kalau tidak salah, nama bapaknya, Haji Nashiruddin..”
“Bukan Nashiruddin, tapi Nashruddin…” jelasnya.
“I..iya..maaf pak, itu yang saya maksud..”
“Rumahnya deket dari sini. Di pertigaan itu kamu belok kiri. Rumah ketiga disebelah kanan itu rumahnya..” kata beliau.
“Oh terimakasih pak.. Kalau begitu saya permisi duluan..” jawabku.
“Motornya dituntun aja, Mas.. Kita jalan kaki aja. Kebetulan bapak pulang ke arah situ juga.” lanjutnya.

Demi menghormatinya, aku pun menuntun
sepeda motorku dan kami berjalan ke arah yang sama. Setelah aku memperkenalkan diri, selama perjalanan kami terlibat pembicaraan seputar kondisi pemuda muslim akhir-akhir ini. Menurut beliau pemuda zaman sekarang sudah jarang sekali yang masih peduli terhadap shalat, apalagi berjama’ah di masjid.
“Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang mengaku muslim, tetapi belum bisa baca Al Qur’an dengan baik” tambahnya. Dan aku hanya meng-iya-kan saja karena memang begitu keadaannya.

Tak begitu lama kami pun sampai di depan sebuah rumah. Sederhana, pagarnya pun tidak begitu tinggi sehingga aku bisa melihat pekarangan rumahnya. Tidak banyak perhiasan di halamannya selain rimbunnya tanam tanaman dan beberapa pohon di sana.
“Di sini tempat tinggal Fathiyya..” ungkap beliau memutus perbincangan kami.
“Oh ya.. Terimakasih sudah berkenan mengantar saya, pak..” jawabku.
Mendengar jawabanku beliau malah tersenyum dan segera berlalu mendekati pintu pagar lalu membukanya.
“Motornya simpan di dalam aja, Nak ‘Ali..” ujarnya.
Kontan saja perasaanku tak menentu karena sikap beliau. Tadi bapak ini memanggilku dengan panggilan ‘Mas’ sekarang beliau malah memanggilku dengan panggilan ‘Nak’. Jangan-jangan..???
“Ayo..bawa masuk motornya.” suara beliau memecah keherananku.
“I..iya..pak…” jawabku dengan suara yang mulai nampak gugup.
Beliau kemudian menghampiri pintu rumah itu dan..

“Assalaamu’alaikum..! Fathiyya Mas ‘Alinya udah dateng nih..!”
Perasaanku tak karuan. Aku merasa bahwa sepanjang perjalanan dari masjid tadi aku berbincang dengan seseorang yang namanya salah kuucapkan, Pak Haji Nashruddin, bapaknya Fathiyya..!
Tidak lama kemudian terdengar suara lembut dari dalam..
“Wa’alaikumsalaam warohmatullah..”
Aku mengenal suara lembut itu, sama seperti suara lantunan murottalnya Fathiyya yang kudengar dari ruang sebelah ketika di rumah Ustadz Utsman. Karena di sanalah kami selalu mengadakan ‘liqo’ (pertemuan). Para ikhwan di ruang depan, sementara para akhwat di ruang tengah. Ya..suara lembut itu, suara Fathiyya.

Dari balik jendela bertirai itu aku melihat samar-samar sosok akhwat menuju pintu keluar. Menyalami lalu mencium tangan beliau.
“Ayah tumben pulang dari masjidnya lebih awal…?” lanjut akhwat yang ternyata adalah Fathiyya.
“Ayah???” hentakku dalam bathin. Benar dugaanku, beliaulah Pak Haji Nashruddin.
Dan aku tak ingat lagi apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Karena pikiran dan perasaanku kian tak menentu. Kakiku pun rasanya berat untuk dilangkahkan. Dan tiba-tiba..
“Ayo Nak ‘Ali..nuggu apa di situ? Mari masuk..!” kata pak H. Nashruddin mengejutkanku.

Singkat cerita, aku sudah berada di ruang tamu rumah itu. Duduk tepat dihadapan Ayahnya Fathiyya. Ada rasa bersalah jika kuingat kejadian di masjid tadi. Hingga aku pun mengutarakan rasa bersalahku.
“Saya mohon maaf pak..tadi sewaktu di masjid..saya kira..”
“Sudah, sudah..enggak apa-apa!” ucapnya memutus perkataanku yang semakin gugup.
“Enggak ada yang salah kok, dan enggak perlu minta maaf..” sambungnya.
Namun tetap saja perasaanku tidak enak, ditambah lagi rasa gugup yang menyelimutiku. Sehingga bathinku terus menerus membisikkan do’a,
“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS Thohaa : 25-28)
Kami pun mulai berbincang kembali.

Ternyata beliaulah yang meminta melalui Fathiyya agar Ustadz Usman menyuruhku datang kerumahnya.
Untuk sekedar bershilaturrahiim dan mungkin memastikan keseriusan niat suci kami.
Selanjutnya beliau menanyakan tentang asal- usulku juga asal-usul keluargaku. Lalu tentang aktifitas kerjaku dan kesibukkanku yang lainnya.
Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba Fathiyya datang dengan sebuah nampan di tangannya. Di atas nampan itu ada dua gelas minuman yang tampak masih hangat. Baru kali ini aku bisa melihat Fathiyya dari jarak yang cukup dekat. Yaitu saat ia menaruh gelas satu-persatu ke atas meja yang berada diantara aku dan Ayahnya.
Kalau boleh jujur, sebetulnya Fathiyya tidak begitu cantik, kulitnya pun tidak begitu putih. Ia berwajah manis dengan kulit sawo matang. Serta balutan jilbab di tubuhnya membuatnya nampak begitu mempesona.
“Ehm ehem..silakan diminum Nak ‘Ali..” suara Pak Nashruddin mengalihkan keterpanaanku pada Fathiyya.
“O..iya..Pak, makasih…” jawabku terkejut.
Kuperhatikan lagi sekilas wajah Fathiyya tersenyum simpul. Mungkin dia menertawakan kegugupanku. Membuat debaran di dalam dadaku kian kencang.

Perbincangan pun berlanjut. Kali ini beliau menanyakan kepastianku untuk menunaikan niat suciku pada putrinya.
Menggenapkan separuh agamaku bersama putri semata wayangnya, Fathiyya. Hingga akhirnya aku menyatakan diri untuk melamar putrinya.
“Bapak sih tergantung Fathiyya. Yang penting, calon imam Fathiyya kelak harus bisa ngaji Al Quran dengan baik dan benar! Supaya dia bisa membimbing Fathiyya menjadi istri yang shalihah. Nah kalau tidak keberatan, Bapak ingin kamu membacakan beberapa ayat saja. Surat Luqman ayat 12 sampai 15.” sambil menyerahkan Al Quran cetakan Timur Tengah.

Saat kuterima Al Quran dari tangan beliau, desiran kegugupanku semakin kencang. Ia menjalar ke setiap sel-sel di tubuhku. Aku mulai merasakan keringat dingin meliputiku. Mendadak aku lupa surat Luqman urutan ke berapa. Apalagi di Al Quran cetakan Timur Tengah, tidak dicantumkan nomor surat di setiap surat-suratnya. Lembar demi lembar mushafnya kususuri, hingga kutemukan ayat yang dimaksud. QS Luqman ayat 12 – 15.
Dengan teliti dan berhati-hati, aku mulai membaca ayat demi ayat yang diminta beliau.
Kubaca dengan sepenuh kemampuanku. Huruf demi huruf, tajwid demi tajwid, kubaca sebaik mungkin.

Selesai membaca rangkaian ayat tersebut, ku angkat pandanganku dari mushaf ke arah beliau.
Kulihat beliau hanya termenung tanpa sedikit pun ekspresi diwajahnya. Sesekali beliau mengangguk-anggukan kepala. Entah apa yang akan dikatakan beliau.
“Mmmh…suaranmu bagus! Murottalmu juga enak didengar! Tidak menjenuhkan meskipun bacaannya panjang. Tapi..ada beberapa hal yang harus kamu sempurnakan.”
Mendengar pernyataan beliau, rasa gugup di dadaku kini mulai menyebar ke arah kepalaku.
“MasyaAllah…” ungkapku membathin, ternyata bacaanku belum sempurna menurut beliau.
“Pertama..Makhorijul hurufmu kadang meleset. Harus jelas beda antara Syin dan Shod, Dzal dan Dal, Zay dan Zho, Tsa dan Sin, juga huruf yang lainnya…”
“Astaghfirullah…seburuk itukah makhorijul hurufku” kataku dalam hati.
Hal yang nampak sepele menurutku, tapi justru itu malah jadi kesalahan pertamaku.
“Kedua..Mad mu juga tidak istiqomah. Mana Mad Ashli, mana Mad Arid Lisukun. Mad ashli kamu jadikan Mad Jaiz, Mad Arid Lisukun malah kamu jadikan Mad Ashli. Kadang Mad Ashli tidak kamu baca panjang..”
Rasa gugup yang menyelimuti kepalaku kini serasa meledak di dalamnya.
“Ketiga..ikhfa mu masih ada yang terdengar izhar. Lalu perhatikan mana tanda waqof, mana tanda washol. Teruus…..”
Suara beliau kini tak dapat kuperhatikan lagi. Karena ledakkan dalam kepalaku seakan meluluh lantahkan isinya. Keringat dingin pun kian menderas disekitar kerah bajuku. Jasadku mungkin dihadapan beliau, tetapi jiwaku entah kemana, seakan menghindari keadaan yang begitu memalukan menurutku. Dan entah apa lagi yang diucapkan beliau, yang pasti banyak kekurangan yang harus kusempurnakan.

“Kamu baik-baik aja, Nak ‘Ali..?” tanya beliau menyadarkan aku dari kegalauan.
“I..iya..ustadz, eh Pak..” jawabku semakin kacau.
“Ya sudah..mungkin kamu lagi kurang enak badan hari ini. Bapak hanya mau menyarankan kamu supaya kamu mau belajar lagi menyempurnakan bacaanmu. Kamu bisa hubungi keponakan Bapak, dia seorang pengajar Al Quran di MAQDIS, ini kartu namanya.” kata beliau sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
Dalam perasaan yang tak dapat lagi kugambarkan itu, aku berusaha meraih kartu nama yang diserahkan beliau. Tapi tanganku terasa berat meraihnya. Kartu nama yang sudah sampai ditanganku pun seakan terasa berat. Lalu kubaca, di sana tertulis nama “Utsman Fathurrahman, S.Ag.”!
“Ustadz Utsman…?!” ucapku dengan spontan, terkejut.
“Ya…Ustadz Utsman, dia putra dari adik sepupu Bapak” jawab beliau.
Bukankah Ustadz Utsman itu adalah murobbiku? Dan istrinya adalah murobbi Fathiyya.
Ternyata Ustadz Utsman masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Fathiyya. Aku baru tahu.
“Kamu mnengenalnya bukan?” tanya beliau.
“Iya Pak..saya kenal sekali Ustadz Utsman. InsyaAllah saya akan belajar lebih baik lagi kepada beliau..”
“Bagus, kalau begitu. Bapak senang melihat pemuda yang semangat dalam mencari ilmu.”
“Jadi…kapan saya harus kesini lagi Pak..?” tanyaku ingin segera mengakhiri perbincangan.
“Untuk apa…?” jawabnya singkat.
“Di test ngaji lagi?”
“Oh..enggak perlu, untuk apa di test lagi..???”
Bagai halilintar di tengah siang, pikiranku meledak lagi. Semua rasa yang tak dapat kugambarkan lagi menyerang seluruh isi ragaku.
“Aku ditolak..!” bisikku dalam bathin. Ingin rasanya aku segera pergi meninggalkan rumah ini. Meninggalkan rasa-rasa yang kubenci ini. Meninggalkan harapan niat suciku bersama Fathiyya.
“O iya..titip salam buat orangtuamu, dari kami.” lanjut beliau menyadarkan aku.
“InsyaAllah..Pak…nanti saya sampaikan.” jawabku lirih.
“Sampaikan juga pada mereka, kapan bisa shilaturrahim kesini? Untuk memastikan kapan kamu dan Fathiyya melangsungkan akad nikah..”
Subhanallah..!!! Kali ini entah apa yang aku rasakan. Semua rasa yang menekan ku dari tadi, kini telah sirna begitu saja. Berganti menjadi rasa yang entah bagaimana aku harus menggambarkannya.
“Jadi..maksud Bapak..lamaran saya diterima???” tanyaku dengan rasa gugup bercampur gembira.
“Memangnya siapa yang menolak lamaran kamu, Nak ‘Ali…? Bukankah Nabi kita SAW mengingatkan,
‘Kalau datang lelaki yang kalian sukai karena agamanya, untuk melamar putri kalian, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian tersebut. Kalau kalian tidak menikahkan mereka, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi.’.
Jadi tidak ada alasan lagi untuk Bapak ataupun Fathiyya menolak lamaran kamu.”

Alhamdulillah..akhirnya pinanganku diterima. Meskipun dengan bacaan yang belum sempurna menurut beliau. Menuntutku untuk belajar lebih baik lagi. Menyempurnakan lagi bacaanku hingga tiba waktunya kami genapkan separuh agama kami.
Fathiyya…kupinang engkau dengan Al Quran.

Sumber: Inspirasi Kehidupan

Meminta Akhirat

Image

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW melihat semangat dan kesungguhan Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami dalam membantu dan melayani keperluan beliau, Rasulullah bersabda, “Mintalah kepadaku wahai Rabi’ah! Niscaya aku akan memberimu.”

Mendengar tawaran itu, Rabi’ah lalu menjawab, “Aku akan berpikir dahulu wahai Rasulullah! Nanti aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Maka, Rabi’ah pun berpikir apa yang hendak ia minta dari sang kekasih Allah tersebut. Sudah barang tentu semua yang dipinta dapat dipenuhi Rasulullah, baik itu urusan yang bersifat dunia maupun urusan akhirat kelak. Karena, Rasulullah sangat dimuliakan Allah SWT sehingga doa dan permintaannya akan dikabulkan.
Baca lebih lanjut

PANTOFEL TUA

Writter: Padang Ilalang

Sinopsis
Yudha Seorang anak petani miskin dari kampung, belajar arti sebuah perjuangan dari seorang Ayah yang sangat berjasa dalam hidupnya, didalam ketarbatasan ekonomi ayahnya masih sanggup untuk menyekolahkannya, oleh sebab itulah dia beusaha dengan sekuat tenaga untuk membuat ayahnya bangga., dan suatu ketika ketika disaat-saat dia akan berwisuda dia dihadiahi olah ayahnya .sepatu pantofel yang sangat berharga bagi ayahnya karena sepatu itu adalah pemberian dari mendiang ibunya,
Ayahnya ingin Yudha memakai sepatu itu ketika dia dia wisuda nanti, namun sayang , ketika besoknya akan berwisuda ayahnya sakit keras dan tak bisa mengahadiri hari wisuda nya, bahkan dia ingin memutuskan untuk untuk kembali ke kampung dan tak ingin mengikuti wisuda, namun ayah nya mencegahnya, dan menyuruh untuk tidak kembali ke kemapung. Namun batin Yudha berkata keras dia tetap ingin balik ke kampung, dan disinilah yudha embali mendapatkan pelajaran berharga dari ayahnya, bahwa ayahnyaingin sekali melihat dia memakai toga dan di wisuda, karena begitu besarnya pengorbanan ayahnya untuk menyekolahkannya hingga lulus sarjana Baca lebih lanjut

RADIKALISME DAN TERORISME DI INDONESIA*

Writter:Dian Oka Putra

Abstrak.
Tentunya kita semua tahu bahwa Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan terhadap peradaban yang menjadi ancaman bagi segenap bangsa serta musuh bagi semua agama, meskipun terorisme selalu di sangkut pautkan dengan agama Islam. Namun Islam sejatinya adalah agama yang memberikan keamanan, kenyamanan, ketenangan dan ketenteraman bagi semua makhluknya. Tidak ada satupun ajaran di dalamnya yang,mengajarkan kepada umatnya untuk membenci dan melukai makhluk lain, kalaupun ada, itu adalah bagian kecil dari salah satu upaya pemecahan masalah yang dilakukan umatnya dan bukan ajarannya.namun itulah yang menjadi pijakan para kaum teroris dalam melakukan tindakannya.
Aksi-aksi terorisme sesungguhnya telah ditabuh sejak tahun 2000-an yang diawali dengan pemboman gedung WTC dan Pentagon dan sederet aksi-aksi terorisme lainnya masih berlangsung hingga saat ini. Dimulai dengan aksi pengeboman di sejumlah tempat di tanah air secara masif. Sebuah aksi yang telah dirancang dengan sistematis, dilakukan secara profesional, dan didukung pendanaan yang sangat besar. Baca lebih lanjut

Pembeda Antara Pemenang dan Pecundang

Pemenang selalu menjadi bagian dari solusi
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah

Pemenang selalu memiliki program atau rancangan
Pecundang selalu memiliki alasan ( pernyataan maaf )

Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan, ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”
Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan, i akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

Pemenang adalah bagian dari tim
Pecundang terpisah dari tim Baca lebih lanjut