Novella Cinta

Aku tahu, aku hidup keatas dunia ini tak punya apa-apa, di besarkan oleh airmata keluarga yang serba kekurangan, aku hidup diatas kolong langit, terlunta-lunta kesana kemari mencari pegangan, tidak punya kata-kata dalam hidup, apa itu kemewahan dan kesenangan pun tak tahu.

Karena tulang kerangka hidupku tidak punya wajah berseri dan menjijikkan, engkau pasti akan mual menerima ejekan dan tertawaan Orang –orang yang dipandang terhormat, aku rasa itulah sebabnya engkau takut-takut mengambil keputusan, ragu-ragu dalam tindakanmu, menempuh dunia yang tak bertepi, semua tawaranku dan ajakanku, belum satupun engkau terima, permintaanku yang terlalu mengharap tentu saja engkau akan malu berdampingan dengan ku. Aku manusia hina! Lagi pula tak punya andil apa-apa diatas Bumi ini!

Tentu lebih utama memenuhi mutlak, permintaan teman-temanmu yang hidup terhormat. Hingga ku teringat kata-katamu yang pernah ku dengar menghinaku di depan teman-temanmu menikam tepat kehulu-hulu perasaanku.menganga kembali luka lama yang baru berangsur sembuh. Engkau didepanku seolah-olah memanjakanku seperti dunia ini bergerak begitu indah, dikelilingi bunga-bunga yang berkelopak indah dengan sejuta warna, namun entah dihatimu aku tak dapat menerka, seperti laut yang lepas memiliki dasar dan pinggir. dan Gunung-gunung yang menjulang keangkasa raya juga yang juga mempunyai puncak yang dapat dilihat, tetapi apa yang tergurat dihatimu tak satupun aku dapat membacanya, lagipula engkau bicara dengan perasaan tanpa nada.

Aku serahkan untukmu! Apa-apa yang paling berharga dalam hidupku, coretan-coretan kertas putih, dan buku-buku batu yang telah merana dirusak zaman, supaya engkau mempelajari tanda suci murninya segumpal hati. dengan kerelaan ku menerima ejekanmu,selagi aku belum bisa membahagiakanmu.

Aku rasa aku pernah menulis sajak-sajak tentangmu, namun dia hilang begitu saja bersama goresan titik terakhir tanpa cerita, seperti batu jatuh kelubuk tanpa pernah engkau belas! Novella ini sengaja aku tulis untukmu, sebagai pelepas sesak didadaku.

Aku minta maaf kepadamu, bersama goresan terakhir novella ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s