PANTOFEL TUA

Writter: Padang Ilalang

Sinopsis
Yudha Seorang anak petani miskin dari kampung, belajar arti sebuah perjuangan dari seorang Ayah yang sangat berjasa dalam hidupnya, didalam ketarbatasan ekonomi ayahnya masih sanggup untuk menyekolahkannya, oleh sebab itulah dia beusaha dengan sekuat tenaga untuk membuat ayahnya bangga., dan suatu ketika ketika disaat-saat dia akan berwisuda dia dihadiahi olah ayahnya .sepatu pantofel yang sangat berharga bagi ayahnya karena sepatu itu adalah pemberian dari mendiang ibunya,
Ayahnya ingin Yudha memakai sepatu itu ketika dia dia wisuda nanti, namun sayang , ketika besoknya akan berwisuda ayahnya sakit keras dan tak bisa mengahadiri hari wisuda nya, bahkan dia ingin memutuskan untuk untuk kembali ke kampung dan tak ingin mengikuti wisuda, namun ayah nya mencegahnya, dan menyuruh untuk tidak kembali ke kemapung. Namun batin Yudha berkata keras dia tetap ingin balik ke kampung, dan disinilah yudha embali mendapatkan pelajaran berharga dari ayahnya, bahwa ayahnyaingin sekali melihat dia memakai toga dan di wisuda, karena begitu besarnya pengorbanan ayahnya untuk menyekolahkannya hingga lulus sarjana

Entah sudah kali yang keberapa Ayah memperbaiki sepatu pantofel satu-satunya miliknya itu yang tapaknya saja sudah hampir habis, padahal sepatu itu kalau dilihat sudah jauh dari kata layak untuk memakainya, namun apa boleh buat, ayahku lebih senang membayarkan uang kuliahku daripada harus membeli sepatu baru. Ingin rasanya aku membelikannya sepatu pantofel baru untuknya, namun dia selalu menolak, ”uangnya labih baik ditabung saja? Sepatu Ayah masih bagus kok untuk dipakai” itulah kata-kata yang selalu diucapkannya ketika aku ingin mengutarakan niatku untuk membelikannya sepatu baru.
Memang sepatu itu bagi Ayah sangatlah berharga, bukan dilihat dari kualitas sepat tersebut, namun sepatu itu diberikan oleh mendiang ibu dihari ulang tahun Ayah tujuh tahun yang lalu, itulah kenangan yang masih Ayah miliki untuk mengenang Ibu. Ibu meninggal karena kanker darah yang menggerogotinya semasa dia hidup, namun karena Ayah hanya seorang petani sawit miskin di kampung, dan ibu pun yang selalu menolak jika ingin dioperasi, akhirnya Ayah menyerah dengan keadaan, dan tepatnya lima tahun yang lalu Ibu meninggalkan Kami.Dan sejak saat itu ayah seperti kehilangan arah dalam hidupnya, namun karena kamilah Ayah sanggup bertahan dengan segala keterbatasan , aku pun tak mampu berbuat berbuat banyak menolong beliau, hanya saja ketika libur kuliah tiba aku lebih memilih untuk pulang kampung dari pada mengambil semester pendek yang di tawarkan universitas kepada ku, karena dengan pulang kampung aku bisa meluangkan waktu untuk menolong ayah menjadi buruh sawit para toke-toke bermata sipit. telah kutanamkan didalam diriku bahwa aku tak ingin mengecewakan ayahku dan yang banting tulang demi menyekolahkan ku hingga sarjana, aku sungguh beruntung memiliki beliau, walau hanya sebagai buruh tani miskin dikampung, tetapi dia sanggup menyekolahkan anak-anaknya dengan segala keterbatasan yang ada. Dia tidak pernah mengatakan tidak punya uang untuk keperluan pendidikan kami Lika-liku kehidupan menggelintir setiap rongga-rongga dalam tubuhku. Menggetarkan segala asa yang terpendam. Ku rasakan perjalanan hidupku hingga saat ini begitu pahit, namun karena beliaulah telah kutemukan apa sebenarnya arti sebuah kehidupan, Kini ku tahu betapa besar sebuah pengorbanan seseorang terhadap orang yang disayanginya
Dan minggu depan tepatnya aku bisa memberikan senyuman diwajahnya, sungguh itu adalah hal yang sangat membuat ku bahagia, tidak sia-sia perjuangan ku selama ini, dengan tidak mengecewakan ayah, ya…. minggu depan aku akan mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana, dan itu juga alasan Ayah kenapa memperbaiki sepatu Pantofel tua miliknya agar bisa menghadiri wisudaku minggu depan, sudah lama aku tak melihat gurat senyum diwajahnya karena telah ditutupi rasa lelah yang hinggap setiap hari. Kali ini aku bisa memberikan senyuman itu kembali.
***
Malam ini aku harus siap-siap berangkat ke kota Pekanbaru karena,disamping persiapan ku wisuda tiga hari lagi,ada banyak hal tentunya yang harus aku selesaikann di kampus nanti
”Yudha,..Sudah selesai semua keperluanmu” sapa ayah menghmpiriku.
”Sudah Yah..,
” Ayah dan adik-adikmu mungkin akan menyusulmu kekota dua hari lagi, karena minggu ini musim panen”.
”Tidak apa-apa kok yah, Yudha tunggu kedatangan kalian disana ”..
”Yudha, ayah ingin engkau memakai sepatu ini ketika wisudamu nanti”, sambil menyodorkan sepatu pantofel yang baru saja diperbaikinya tadi
”Bukankah sepatu ini yang akan ayah pakai ketika wisuda ku nanti?” kataku sambil terkejut.
”Pakailah nak, sepatu ini pemberian ibumu ayah ingin engkau memakainya dihari wisudamu nanti, Ayah tahu engkau tidak mempunyai sepatu kulit,pakailah ?” jawab ayahku sambil tersenyum.
”lalu ayah pakai apa nanti? Jawabku penasaran
”Sendal kulit ayah masih layak kok untuk dipakai”Yudha selama ini tak ada yang bisa ayah berikan untukmu Nak, maaf jika Ayah tak bisa memberikan perlengkapan yang serba baru ketika engkau berkuliah, hanya ini yang bisa ayah berikan?, ..” .
Perkataan nya itu langsung menembus kedalam lubuk hatiku, kurasakan hatiku telah basah mengingat pengorbanannya selama ini kepada ku, dalam kata-katanya tersirat bahwa dia menaruh harapan besar kepadaku
Tak banyak kata-kata yang sanggup kuucapkan, perkataannya kali ini benar-benar menghujam dalam dadaku, seperti unta aku siap untuk diseret oleh tuannya kemanapun maka kali ini aku akan siap untuk dikendalikan oleh fikiran-fikiran positif yang sedikit demi sedikit bermunculan mengisi otakku.
Dan serta merta kucium dengan penuh ta’zim tangan nya yang telah keriput dimakan usia”terima kasih yah” ucapku sendu, sambil berpamitan kepada beliau

***
Dengan penuh semangat Kutapaki aspal berlubang dengan Sepatu Pantofel tua yang diberikannya semalam kepadaku, meski terlihat usang dan jadul namun serasa begitu bangga aku memakainya, diajalanan banyak orang memandang sinis kepada ku melihat sepatu usang yang kukenakan, tapi itu tidak kupedulikan, bahkan aku bangga memakainya, bangga bukan karena kualitasnya, namun bangga karena disepatu itu terdapat pengorbanan yang besar dari ayahku,harapan yang besar kepadaku. Dengan tujuan yang mantap au menuju ke ruangan administrasi Universitas. Ya apa lagi kalau tidak untuk mengurus persoalan duit, aku berharap hari ini adalah hari terakhirku keruangan tersebut Ruangan yang paling menyebalkan di kampus ini, semenjak aku berkuliah disini aku selalu mendapatkan masalah diruangan ini, dan ku berharap ini adalah hari terakhirku untuk memasuki ruangan ini, semoga saja
.kubaca dengan seksama uang yang harus aku bayar untuk berwisuda. Mataku terbelalak ketika melihat jumlah nominal yang harus aku bayar untuk wisudaku
”Ckckck…. sangat mahalnya pendidikan di negeri ini….gumamku sambil melihat uang yang harus aku bayar, entah kenapa sangat berat rasanya aku memberikan uang yang diberikan oleh Ayah, dengan begitu mudahnya aku berikan kepada petugas teller.senyum ramahnya seolah mengiris-iris hatiku,
”Hei Yudha, selamatnya akhirnya engkau bisa lulus juga” sambil menepuk pundakku.
Tepukannya ke pundakku memalingkan pandangan ku kepada petugas teller yang tengah asyik menghitung uang yang aku berikan.
”Terima kasih sobat ini berkat kalian semua, tanpa kalian mungkin skripsiku tidak akan selesai dengan tepat waktu,”
”Ah engkau ini bisa saja, Oh ya yud doain aku juga ya, semoga aku juga bisa menyusulmu, dengan cepat. Skripsiku hari ini akan ditanda tangani oleh dosen pembimbing.
”Amin, semoga engkau bisa dengan cepat selesainya.dan semuanya lancar
”Amin..Aku duluan ya.”
”OK”
Hmmm……seorang sahabat yang kudapat dikampus ini, jarang ada sahabat seperti dia yang sangat berjasa dalam hidupku, dia dengan sukarela menawarkan komputernya untuk ku pakai, bahkan ketika tengah malam suntuk aku dengan malunya aku mengetuk-ngetuk pintu rumahnya namun dia dengan senang hati membuka pintu rumahnya untukku. Senyum yang selalu terpancar di wajahnya ketika aku selalu mengotak-atik komputernya…hanya tuhan yang sanggup membalas kebaikan mu sobat.
Tiba-tiba handpone nokia ku berbunyi, adikku meng-SMS.
Sebuah pean singkat yang kudapat dari adikku di kampung
”Kak Yudha InsyaAllah Kami nanti sore akan berangkat”
aku tersenyum membaca SMS nya,
”Hmmm…..Sepertinya aku harus bersiap-siap neh untuk menyambut tamu agung yang datang sebantar lagi gumamku dalam hati.
***
Sejenak aku merebahkan diri. Mengentaskan semua asa yang tertanam dalam diri. Tubuhku terasa nyaman, berada dalam naungan tikar tua yang ku bawa dari kampung,. Sesekali aku menghela nafas panjang. Menerawang dalam tatapan yang penuh dengan keletihan. Letih menjalani kehidupan yang semakin melelahkan. Gejolak jiwa dalam aral yang membelenggu. Mengganggu tanpa permisi terlebih dahulu. Semuanya datang. Semuanya terasa keras dalam balutan masalah yang tak akan tuntas. Tetapi aku yakin. Tidak ada masalah yang tidak bisa dituntaskan. Karena Allah, telah memberikan cobaan dengan beserta kemudahannya. Aku yakin, semuanya bisa terselesaikan. Selesai tanpa harus membekas dalam diri dengan setumpuk masalah yang sama bertubi-tubi.
Aku teringat dengan sepatu pantofel yang diberikan ayahku yang belum ku semir, salam keleahan segera aku bangkit dari bantal yang empuk sepertinya bantal tersebut meradang, namun rasa capek yang bersangat ini segera ku tepis dengan beranjak ke kamar kos temanku yang sebelah untuk meminta belas kasihanya untuk memberikan semir sepatu untuk ku pakai, alhasil di juga bersedia meminjamkan ku,
Tiba-tiba adikku kembali meng-SMS ku, pesnnya cukup singkat
”Kak Yudha sepertinya kami tidak bisa menghadiri wisuda kak Yudha”
cukup singkat untuk membuatku penasaran dan terhenyak dengan SMS nya. Segera ku balas SMS adikku dengan sejuta pertanyaan yang bergelayut di benakku
”Emangnya kenapa dik?”
Lama sekali adikku sepertinya tidak membalas SMS, segera ku telepon adikku dengan rasa penasaran yang tinggi.
Dan dia pun mengangkat. Aku sedikit gugup mendengar suara adikku yang sedikit basah, ada apa dik? Kata ku penasaran.
Sepertinya ayah tidak bisa pergi kak,
”Iya memang kenapa ayah tidak bisa pergi?kataku dengan nada penasaran.
Ayah sekarang sedang sakit!”.
”Sakit?Bukankah Semalam dia terlihat baik-baik saja? Kataku semakin penasaran”
”Iya, ternyata ayah merahasiakan penyakitnya pada kita, dia tumbang ketika sedang mendodos sawit tadi siang Kak?”
”Merahasiakan Apa?”
”Ayah Sakit TBC Kak”
”Seketika Itu aku terkesiap darahku berdesir dan aku merasakan jantungku sepertinya berhenti berdetak”.
Segera Ku tutup Telepon dari adikku aku kemas barang-barang ku karena malam ini aku ingin langsung balik ke kampung.
”Hei Yudha Engkau mau kemana?”tanya salah seoarng teman kos ku dengan nada penasaran.
” Ayahku sakit keras, malam ini Aku mau balik kampung” jawabku singkat.
”Bukannya engkau besok akan Wisuda?”
”Sepertinya tidak, Ayah ku lebih penting dari ini semua”.aku titip baju wisuda dan toga ini untuk kau kembalikan besok ke kekampus”
”HMmm..baiklah, semoga ayahmu lekas sembuh.”
”terimakasih..”
Tiba HP ku berdering kembali”dari adikku.
”Halo.salamualaikum.”
”Waalaikumsalam..Kak Yudha, Ayah Mau bicara dengan kakYudha.
”Ayah!!!!
”Ayah berharap Engkau bisa memakai toga itu besok Nak?” kata ayahku dengan suara yang serak dan berat
”Tapi Kenapa merahasiakan ini kepada Yudha?bagaimana Yudha akan wisuda jika ayah disana dalam keadaan sakit! Bukannya ayh sudah berjanji akan datang dia acara wisuda ku besok?.”
”Maafkan Ayah atas semuanya nak?…..Ayah mohon kepada engkau Yudha sekali ini saja Ayah ingin melihat mu memakai toga dengan pantofel pemberian ibumu itu, walau ayah tidak bisa mendampingi mu disana ayah masih bisa mendoakanmu disini” katanya memelas
”Tapi bukankah ijazah ini hanya sebuah formalitas saja yah….bukankah ayah yang selalu mengajarkan pada Yudha bahwa Allah itu tidak melihat hambanya darihasil yang dadapatnya tetapi dari proses seberapa habat dia melalui perjuangan itu?.jadi buat apa ijazah ini?
”Yudha,…Suatu saat engkau akan paham nak arti dari ini semua, bukan ijazah yang ayah harapkan dari mu, tapi bukti dari pengorbanan ayah yang selama ini kepadamu, ayah tidak peduli engakau akan akan melangkah kemana nantinya setelah ini nak, tapi bolehnya setidaknya ayah ingin melihat anak ayah ini mengenakan toga wisuda yang beralas pantofel tua ayah?.kata ayahku dengan nada bicara yang semakin berat
”Hatiku terhenyung ketika dia memohon kepada ku lagi-lagi dia memberikanku pelajaran yang bermakna tentang arti sebuah perjuangan hidup,tanpa kusadari mataku telah basah oleh kata-katanya”
”semoga Ayah lekas sembuh disana, yudha tidak akan mengecawakan ayah? Yudha janji..”
”Terima Kasih Nak”
Dengan linangan air mata,Ku pandangi sepatu pantovel tua yang masih ku pegang, sepertinya pemilik pantofel tua itu ingin mengutarakan sesuatu yang tersirat kepada ku,
”Somoga Ayahku Sehat Disana.
Ku pandangi lekat-lekat sepatu itu, tak ada kebohongan sama sekali yang dia pancarkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s