Kupinang Engkau Dengan Al-Qur’an

Image

Tepat adzan Isya aku sampai di halaman masjid di sebuah komplek perumahan. Usai memarkirkan sepeda motorku di halaman masjid itu, aku bergegas mengambil air wudhu lalu sholat berjama’ah.
Selepas sholat isya dan ba’diyahnya, aku kembali menuju halaman masjid tempat aku memarkirkan sepeda motorku.
Ada rasa yang mulai tak menentu kala itu. Karena setelah ini aku akan mengunjungi rumah seseorang.
Seseorang yang telah dipilihkan oleh murobbiku, Ustadz Utsman. Seseorang itu adalah Fathiyya. Seorang akhwat lugu nan mempesona serta baik akhlaqnya.
Ia tak banyak bicara dan pandangannya tertunduk jika ada ikhwan disekitarnya. Pakaiannya sederhana, tetapi jilbabnya istimewa. Hampir separuh bagian atas tubuhnya tertutup oleh balutan jilbabnya.

Sebelum meninggalkan halaman masjid itu, aku menyapa seorang jama’ah masjid,
“Assalaamu’alaikum, pak..”
“Wa’alaikumsalaam warohmatulloh..” jawabnya fasih.
“Maaf pak…saya mau tanya, barangkali Bapak tahu rumahnya Fathiyya?”
“Fathiyya yah? Kamu tahu siapa orangtuanya?”
“Kalau tidak salah, nama bapaknya, Haji Nashiruddin..”
“Bukan Nashiruddin, tapi Nashruddin…” jelasnya.
“I..iya..maaf pak, itu yang saya maksud..”
“Rumahnya deket dari sini. Di pertigaan itu kamu belok kiri. Rumah ketiga disebelah kanan itu rumahnya..” kata beliau.
“Oh terimakasih pak.. Kalau begitu saya permisi duluan..” jawabku.
“Motornya dituntun aja, Mas.. Kita jalan kaki aja. Kebetulan bapak pulang ke arah situ juga.” lanjutnya.

Demi menghormatinya, aku pun menuntun
sepeda motorku dan kami berjalan ke arah yang sama. Setelah aku memperkenalkan diri, selama perjalanan kami terlibat pembicaraan seputar kondisi pemuda muslim akhir-akhir ini. Menurut beliau pemuda zaman sekarang sudah jarang sekali yang masih peduli terhadap shalat, apalagi berjama’ah di masjid.
“Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang mengaku muslim, tetapi belum bisa baca Al Qur’an dengan baik” tambahnya. Dan aku hanya meng-iya-kan saja karena memang begitu keadaannya.

Tak begitu lama kami pun sampai di depan sebuah rumah. Sederhana, pagarnya pun tidak begitu tinggi sehingga aku bisa melihat pekarangan rumahnya. Tidak banyak perhiasan di halamannya selain rimbunnya tanam tanaman dan beberapa pohon di sana.
“Di sini tempat tinggal Fathiyya..” ungkap beliau memutus perbincangan kami.
“Oh ya.. Terimakasih sudah berkenan mengantar saya, pak..” jawabku.
Mendengar jawabanku beliau malah tersenyum dan segera berlalu mendekati pintu pagar lalu membukanya.
“Motornya simpan di dalam aja, Nak ‘Ali..” ujarnya.
Kontan saja perasaanku tak menentu karena sikap beliau. Tadi bapak ini memanggilku dengan panggilan ‘Mas’ sekarang beliau malah memanggilku dengan panggilan ‘Nak’. Jangan-jangan..???
“Ayo..bawa masuk motornya.” suara beliau memecah keherananku.
“I..iya..pak…” jawabku dengan suara yang mulai nampak gugup.
Beliau kemudian menghampiri pintu rumah itu dan..

“Assalaamu’alaikum..! Fathiyya Mas ‘Alinya udah dateng nih..!”
Perasaanku tak karuan. Aku merasa bahwa sepanjang perjalanan dari masjid tadi aku berbincang dengan seseorang yang namanya salah kuucapkan, Pak Haji Nashruddin, bapaknya Fathiyya..!
Tidak lama kemudian terdengar suara lembut dari dalam..
“Wa’alaikumsalaam warohmatullah..”
Aku mengenal suara lembut itu, sama seperti suara lantunan murottalnya Fathiyya yang kudengar dari ruang sebelah ketika di rumah Ustadz Utsman. Karena di sanalah kami selalu mengadakan ‘liqo’ (pertemuan). Para ikhwan di ruang depan, sementara para akhwat di ruang tengah. Ya..suara lembut itu, suara Fathiyya.

Dari balik jendela bertirai itu aku melihat samar-samar sosok akhwat menuju pintu keluar. Menyalami lalu mencium tangan beliau.
“Ayah tumben pulang dari masjidnya lebih awal…?” lanjut akhwat yang ternyata adalah Fathiyya.
“Ayah???” hentakku dalam bathin. Benar dugaanku, beliaulah Pak Haji Nashruddin.
Dan aku tak ingat lagi apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Karena pikiran dan perasaanku kian tak menentu. Kakiku pun rasanya berat untuk dilangkahkan. Dan tiba-tiba..
“Ayo Nak ‘Ali..nuggu apa di situ? Mari masuk..!” kata pak H. Nashruddin mengejutkanku.

Singkat cerita, aku sudah berada di ruang tamu rumah itu. Duduk tepat dihadapan Ayahnya Fathiyya. Ada rasa bersalah jika kuingat kejadian di masjid tadi. Hingga aku pun mengutarakan rasa bersalahku.
“Saya mohon maaf pak..tadi sewaktu di masjid..saya kira..”
“Sudah, sudah..enggak apa-apa!” ucapnya memutus perkataanku yang semakin gugup.
“Enggak ada yang salah kok, dan enggak perlu minta maaf..” sambungnya.
Namun tetap saja perasaanku tidak enak, ditambah lagi rasa gugup yang menyelimutiku. Sehingga bathinku terus menerus membisikkan do’a,
“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS Thohaa : 25-28)
Kami pun mulai berbincang kembali.

Ternyata beliaulah yang meminta melalui Fathiyya agar Ustadz Usman menyuruhku datang kerumahnya.
Untuk sekedar bershilaturrahiim dan mungkin memastikan keseriusan niat suci kami.
Selanjutnya beliau menanyakan tentang asal- usulku juga asal-usul keluargaku. Lalu tentang aktifitas kerjaku dan kesibukkanku yang lainnya.
Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba Fathiyya datang dengan sebuah nampan di tangannya. Di atas nampan itu ada dua gelas minuman yang tampak masih hangat. Baru kali ini aku bisa melihat Fathiyya dari jarak yang cukup dekat. Yaitu saat ia menaruh gelas satu-persatu ke atas meja yang berada diantara aku dan Ayahnya.
Kalau boleh jujur, sebetulnya Fathiyya tidak begitu cantik, kulitnya pun tidak begitu putih. Ia berwajah manis dengan kulit sawo matang. Serta balutan jilbab di tubuhnya membuatnya nampak begitu mempesona.
“Ehm ehem..silakan diminum Nak ‘Ali..” suara Pak Nashruddin mengalihkan keterpanaanku pada Fathiyya.
“O..iya..Pak, makasih…” jawabku terkejut.
Kuperhatikan lagi sekilas wajah Fathiyya tersenyum simpul. Mungkin dia menertawakan kegugupanku. Membuat debaran di dalam dadaku kian kencang.

Perbincangan pun berlanjut. Kali ini beliau menanyakan kepastianku untuk menunaikan niat suciku pada putrinya.
Menggenapkan separuh agamaku bersama putri semata wayangnya, Fathiyya. Hingga akhirnya aku menyatakan diri untuk melamar putrinya.
“Bapak sih tergantung Fathiyya. Yang penting, calon imam Fathiyya kelak harus bisa ngaji Al Quran dengan baik dan benar! Supaya dia bisa membimbing Fathiyya menjadi istri yang shalihah. Nah kalau tidak keberatan, Bapak ingin kamu membacakan beberapa ayat saja. Surat Luqman ayat 12 sampai 15.” sambil menyerahkan Al Quran cetakan Timur Tengah.

Saat kuterima Al Quran dari tangan beliau, desiran kegugupanku semakin kencang. Ia menjalar ke setiap sel-sel di tubuhku. Aku mulai merasakan keringat dingin meliputiku. Mendadak aku lupa surat Luqman urutan ke berapa. Apalagi di Al Quran cetakan Timur Tengah, tidak dicantumkan nomor surat di setiap surat-suratnya. Lembar demi lembar mushafnya kususuri, hingga kutemukan ayat yang dimaksud. QS Luqman ayat 12 – 15.
Dengan teliti dan berhati-hati, aku mulai membaca ayat demi ayat yang diminta beliau.
Kubaca dengan sepenuh kemampuanku. Huruf demi huruf, tajwid demi tajwid, kubaca sebaik mungkin.

Selesai membaca rangkaian ayat tersebut, ku angkat pandanganku dari mushaf ke arah beliau.
Kulihat beliau hanya termenung tanpa sedikit pun ekspresi diwajahnya. Sesekali beliau mengangguk-anggukan kepala. Entah apa yang akan dikatakan beliau.
“Mmmh…suaranmu bagus! Murottalmu juga enak didengar! Tidak menjenuhkan meskipun bacaannya panjang. Tapi..ada beberapa hal yang harus kamu sempurnakan.”
Mendengar pernyataan beliau, rasa gugup di dadaku kini mulai menyebar ke arah kepalaku.
“MasyaAllah…” ungkapku membathin, ternyata bacaanku belum sempurna menurut beliau.
“Pertama..Makhorijul hurufmu kadang meleset. Harus jelas beda antara Syin dan Shod, Dzal dan Dal, Zay dan Zho, Tsa dan Sin, juga huruf yang lainnya…”
“Astaghfirullah…seburuk itukah makhorijul hurufku” kataku dalam hati.
Hal yang nampak sepele menurutku, tapi justru itu malah jadi kesalahan pertamaku.
“Kedua..Mad mu juga tidak istiqomah. Mana Mad Ashli, mana Mad Arid Lisukun. Mad ashli kamu jadikan Mad Jaiz, Mad Arid Lisukun malah kamu jadikan Mad Ashli. Kadang Mad Ashli tidak kamu baca panjang..”
Rasa gugup yang menyelimuti kepalaku kini serasa meledak di dalamnya.
“Ketiga..ikhfa mu masih ada yang terdengar izhar. Lalu perhatikan mana tanda waqof, mana tanda washol. Teruus…..”
Suara beliau kini tak dapat kuperhatikan lagi. Karena ledakkan dalam kepalaku seakan meluluh lantahkan isinya. Keringat dingin pun kian menderas disekitar kerah bajuku. Jasadku mungkin dihadapan beliau, tetapi jiwaku entah kemana, seakan menghindari keadaan yang begitu memalukan menurutku. Dan entah apa lagi yang diucapkan beliau, yang pasti banyak kekurangan yang harus kusempurnakan.

“Kamu baik-baik aja, Nak ‘Ali..?” tanya beliau menyadarkan aku dari kegalauan.
“I..iya..ustadz, eh Pak..” jawabku semakin kacau.
“Ya sudah..mungkin kamu lagi kurang enak badan hari ini. Bapak hanya mau menyarankan kamu supaya kamu mau belajar lagi menyempurnakan bacaanmu. Kamu bisa hubungi keponakan Bapak, dia seorang pengajar Al Quran di MAQDIS, ini kartu namanya.” kata beliau sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
Dalam perasaan yang tak dapat lagi kugambarkan itu, aku berusaha meraih kartu nama yang diserahkan beliau. Tapi tanganku terasa berat meraihnya. Kartu nama yang sudah sampai ditanganku pun seakan terasa berat. Lalu kubaca, di sana tertulis nama “Utsman Fathurrahman, S.Ag.”!
“Ustadz Utsman…?!” ucapku dengan spontan, terkejut.
“Ya…Ustadz Utsman, dia putra dari adik sepupu Bapak” jawab beliau.
Bukankah Ustadz Utsman itu adalah murobbiku? Dan istrinya adalah murobbi Fathiyya.
Ternyata Ustadz Utsman masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Fathiyya. Aku baru tahu.
“Kamu mnengenalnya bukan?” tanya beliau.
“Iya Pak..saya kenal sekali Ustadz Utsman. InsyaAllah saya akan belajar lebih baik lagi kepada beliau..”
“Bagus, kalau begitu. Bapak senang melihat pemuda yang semangat dalam mencari ilmu.”
“Jadi…kapan saya harus kesini lagi Pak..?” tanyaku ingin segera mengakhiri perbincangan.
“Untuk apa…?” jawabnya singkat.
“Di test ngaji lagi?”
“Oh..enggak perlu, untuk apa di test lagi..???”
Bagai halilintar di tengah siang, pikiranku meledak lagi. Semua rasa yang tak dapat kugambarkan lagi menyerang seluruh isi ragaku.
“Aku ditolak..!” bisikku dalam bathin. Ingin rasanya aku segera pergi meninggalkan rumah ini. Meninggalkan rasa-rasa yang kubenci ini. Meninggalkan harapan niat suciku bersama Fathiyya.
“O iya..titip salam buat orangtuamu, dari kami.” lanjut beliau menyadarkan aku.
“InsyaAllah..Pak…nanti saya sampaikan.” jawabku lirih.
“Sampaikan juga pada mereka, kapan bisa shilaturrahim kesini? Untuk memastikan kapan kamu dan Fathiyya melangsungkan akad nikah..”
Subhanallah..!!! Kali ini entah apa yang aku rasakan. Semua rasa yang menekan ku dari tadi, kini telah sirna begitu saja. Berganti menjadi rasa yang entah bagaimana aku harus menggambarkannya.
“Jadi..maksud Bapak..lamaran saya diterima???” tanyaku dengan rasa gugup bercampur gembira.
“Memangnya siapa yang menolak lamaran kamu, Nak ‘Ali…? Bukankah Nabi kita SAW mengingatkan,
‘Kalau datang lelaki yang kalian sukai karena agamanya, untuk melamar putri kalian, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian tersebut. Kalau kalian tidak menikahkan mereka, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi.’.
Jadi tidak ada alasan lagi untuk Bapak ataupun Fathiyya menolak lamaran kamu.”

Alhamdulillah..akhirnya pinanganku diterima. Meskipun dengan bacaan yang belum sempurna menurut beliau. Menuntutku untuk belajar lebih baik lagi. Menyempurnakan lagi bacaanku hingga tiba waktunya kami genapkan separuh agama kami.
Fathiyya…kupinang engkau dengan Al Quran.

Sumber: Inspirasi Kehidupan

One thought on “Kupinang Engkau Dengan Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s