Menelisik Insiden Di Tolikara Papua

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
ان الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات اعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له اشهد ان ﻻاله اﻻ الله وحده  ﻻ شريك له و اشهد ان محمدا عبده ورسوله اللهم صل على محمد وعلى آل محمد واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين. يا ايهاالين آمنوا تتقوا الله حق تقاته وﻻ تموتن اﻻ وانتم مسلمين – ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساءواتقواالله الذي تساالون به والارحام ان الله كان عليكم رقيبا – ياايهاالذين آمنوا اتقوا الله و قولوا قولا سديدا يصلح لكم اعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما.

image

Amma ba’du, telah terjadi serangan fisik dari orang-orang kafir terhadap kampung Muslimin di hari raya Iedul Fitri (1 Syawwal 1436 H / 17 Juli 2015 M) dalam keadaan kaum Muslimin sedang memulai pelaksanaan shalat Ied. Masjid dan beberapa rumah dan kios pedagang Muslimin dibakar oleh orang-orang kafir itu. Pemerintah Indonesia yang terus menerus mengkampanyekan kekafiran, menyalahkan kaum Muslimin di tempat kejadian perkara. Dengan pernyataan Wakil Presiden Mohamad Yusuf Kalla yang menyalahkan kaum Muslimin suka pakai pengeras suara dalam pelaksanaan ibadahnya.

image

Begitulah memang sikap pemerintah kafir ini, bila ada serangan fisik terhadap kaum Muslimin, selalu yang disalahkan adalah Muslimin yang diserang itu. Orang-orang kafir yang najis itu harus dijaga perasaannya, sebab hanya merekalah rupanya yang dianggap warga negara yang punya haq asasi sebagai manusia. Sedangkan kaum Muslimin adalah warga negara yang tidak punya haq asasi sebagai manusia. Bila Muslimin mayoritas, maka mereka disuruh untuk toleransi mutlaq kepada kalangan pemeluk agama minoritas. Kalo natal, maka kaum Muslimin disuruh menjaga gerejanya untuk memberikan rasa aman kepada jemaat gereja yang sedang khusyu’ menjalankan kemusyrikannya. Dan bila kaum Muslimin minoritas di suatu daerah, maka mereka harus mempertimbangkan perasaan mayoritas kafir dalam menjalankan agama. Jangan menyuarakan adzan di pengeras suara, jangan shalat Jum’at di masjid kalau bertepatan dengan hari nyepi di Bali. Tidak boleh shalat Ied dan takbiran kalau bertepatan dengan adanya program keramaian di gereja. Dan seabrek aturan yang menindas habis perasaan keagamaan Muslimin di daerah tersebut.
Pemerintah Indonesia yang kafir ini terus menerus menuntut kaum Muslimin untuk membuat penafsiran agama yang cocok dengan selera kekafiran pemerintah itu. Maka mengharapkan pemerintah ini membela darah kaum Muslimin yang tertumpah dimanapun di wilayah NKRI ini, adalah seperti biduk merindukan bulan. Demikian pengalaman yang saya alami sendiri pada peristiwa pembantaian Muslimin di Ambon dan kemudian di Poso. Muslimin Papua sekarang menerima gilirannya dan kaum Muslimin, khususnya kalangan Salafiyyin Murji’ah, masih saja mengharapkan Pemerintah kafir ini untuk membela darah kaum Muslimin.
Maka saya ingatkan kepada kalian semua, kondisi saudara kita di Tolikara Papua sekarang ini sangat memerlukan pembelaan kita saudara mereka. Pemerintah kafir tidak membela mereka, tapi yang ada justru bermain mata dengan kafir-kafir itu agar penindasan terhadap Muslimin itu terus berlangsung. Jihad Fi Sabilillah harus dikobarkan untuk memerangi kafir-kafir itu. Dan saya tegaskan di sini, bahwa kafir di sana dan di sini  sama-sama harbinya !!! Ini adalah kenyataan ilmiyah, dimana para Ulama menyimpulkan dari dalil-dalil yang ada bahwa kafir harbi itu ialah kafir yang menampakkan kekafirannya di hadapan kaum Muslimin dan mengajak kaum Muslimin kepada kekafirannya. Demikian antara lain Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie rahimahullah menerangkan kepada saya. Juga silakan membaca kotab SYARHUL MUMTI’ ALA ZADIL MISTAQNI’  karya Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, jilid 8 hal.53 s/d 89. Maka solusi problem kita ini tidak mungkin ditempuh selain JIHAD FI SABILILLAH dengan bergerak secara fisik ke daerah yang sedang ditumpahkan darah kaum Muslimin padanya. Karena kondisi ini adalah nafirul aam, dimana telah diterangkan oleh Al Allamah Nidhom Al Hindi dalam Fatawa Hindiyah, bahwa jihad itu dikatagorikan An Nafirul Aam (yakni mobilisi umum) sehingga fardhu ain atas Muslimin setempat untuk mengangkat senjata berjihad fi sabilillah, ialah bila musuh menyerang kampung-kampung Muslimin dan mengancam harta dan kehormatan serta nyawa Muslimin padanya. Dan bila mereka tidak mampu, maka wajib atas Muslimin yang berdekatan dengannya dan bila juga tidak mampu maka wajib atas Muslimin di daerah berikutnya. Para ustadz-ustadz penakut, para da’i penakut, dipersilakan kalian mencari alasan pembenar untuk kalian tinggal sama anak istri kalian. Kalian jaga saja pulau Jawa sebagai pusat Indonesia. Biar pulaunya tidak diangkut sama jin kartubi. Silakan kalian pergi menemui para Ulama’ untuk mempermainkan para Ulama’ itu dengan kedustaan kalian, dan kemudian kalian dengan fatwa Ulama’ itu, kalian menggembosi para Salafiyyin agar mereka tidak berangkat Jihad fi Sabilillah. Silakan kalian teruskan makar kalian terhadap amalan Jihad Fi SabiIillah ini, sampai Allah Ta’ala menunjuki kalian aztau Allah Ta’ala menghinakan kalian di dunia dan akherat. Kami insyaallah dengan pertolonganNya akan berangkat ke medan Jihad Fi Sabilillah di Papua  walaupun para Salafiyyin Murji’ah itu terus melancarkan penghadangan dan halangan.
Allahi Akbar Walillahilhamd.
Demikian nasehat dan pernyatan saya untuk segenap kaum Muslimin.

Saya yang membikin pernyataan : Ja’far Umar Thalib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s