KEDUA

Sepulangnya aku dari kampus tadi langsung seyogyanya aku merebahkan diriku kesebuah permadani usang berwarna merah yang aku bawa dari Padang, dan permdani itulah yang menjadi sekeligus tempat tidurku ketika dimalam hari, ya karpet itu memang cukup alternatif buatku untuk tidur dimalam hari dan sebagai penghematan karena aku tak perlu lagi membeli kasur busa, memang karpet itu cukup efektif untuk membangunkanku ditengah malam untuk Qiyamul Lail dikarenakan tidurku yang tidak nyenyak.  
Siang ini terasa sangat terik, matahari seolah ingin memuntahkan seluruh lahar panasnya kebumi dengan sangat garang, saking panasnya, sampai-sampai si asep teman sebelah kamar ku  saja tidur siang dengan mandi  keringat dan bertelanjang dada, dan karena itu pulalah aku harus keluar dari kamarku yang berukuran dua kali tiga meter untuk mencari angin segar ke teras gedung putih karena tidak tahan dengan panasnya matahari yang kian menggila, kucoba keluar kamar untuk mencoba mencari asupan oksigen baru yang masih tersisa di atas muka bumi ini, meski harus bercampur dengan puluhan asap kendaran yang berlalu lalang ditambah debu jalanan yang berterbangan. Walau demikian aku masih setia berdiri di beranda Gedung Putih sambil mencari sisa-sisa oksigen tersebut walupun sedikit namun bisa mengisi rongga-rongga paru-paru yang kian sesak. Sambil menatap ratusan kendaraan yang semrawutan dan diseberang jalan juga tampak pula puluhan siswa-siswi MAN 2 Medan yang sekolahnya  tepat didepan Gedung Putih, wajah mereka sepertinya melukiskan wajah-wajah yang baru saja melalui hari yang melelahkan dalam hidup mereka, seperti wajah-wajah para pejuang yang baru saja pulang dengan membawa kekalahan, namun di antara hiruk pikuk kemacetan lalu lintas yang semakin tidak karuan tersebut, dari bawah kumelihat seorang wanita yang berpayung putih melintas masuk kedalam gang Gurilla di samping gedung putih, angin menari-nari mengayunkan jilbab besar yang dikenakannya, wajahnya tertutupi oleh payung putih yang di pakainya,. Aku terpaku melihatnya, dari lantai tiga gedung putih hanya tampak payung putih yang dikembangkannya, walaupun hanya payungnya saja yang tampak olehku, namun tetap pemandangan itu mendesirkan hatiku, tatapanku tak pernah putus hingga payung tersebut hilang dikejahuan, SubhanAllah, maha suci Allah yang telah menciptakan gadis seperti itu, seketika itu juga ku tepis semua pikiran yang sudah tidak wajar itu, sambil Beristighfar, dan serta merta aku mencoba untuk menghapus bayangan tersebut. Tapi sepertinya baru kali ini aku melihat Akhwat itu melintas di Gedung Putih, padahal belum pernah aku melihatnya sebelumnya lagi ku melihat wajah gadis ku itu. Matahari tepat berada diatas petala langit saat ini, dan udara semakin hari semakin menggila, walau sangat panas tapi aku masih enggan untuk beranjak dari teras lantai tiga gedung putuh, aku masih ingin menikmati siang ini. sambil mencoba mencari-cari udara yang segar untuk dihirup kucoba kembali untuk mereview semua yang telah terjadi dalam hidup ku hingga aku bisa datang kenegeri Toba ini Tangisku pun pecah ketika ingatakanku berputar balik ke lima tahun yang lalu, ketika aku sedang duduk di kelas dua Aliyah.
Sekolah itu Ayahku yang memilihkan, bahkan Ayahku sendiri lah yang mengantarkanku sewaktu mendaftar, dengan harapan aku bisa diandalkan nantinya dalam urusan agama dan dapat memebimbing keluarga kejalan yang benar dan beliau jugalah menemaniku ketika menjalani ujian masuk sekolah.
Saat itu aku baru kelas dua, aku seperti tak jera-jeranya melakukan kenakalan-kenakalan yang kian hari semakin menjadi-jadi. Puncaknya ketika aku berkelahi dengan seorang siswa salah satu sekolah menengah atas di Padang. Muka anak itu membiru oleh tonjokan tanganku. Uh….. untung saja kuurungkan niatku mengambil batu bata yang kulihat di tepi jalan Gunung Pangilun itu untuk menghajarnya. Kalau saja itu terjadi, mungkin aku masih terkerangkeng dalam hotelnya para preman, atau malah mungkin aku akan mati dikeroyok teman-teman anak itu.
Setidaknya lima orang polisi segera datang ke tempat itu, emosiku pun segera meledak, salah seorang polisipun sempat kuhajar sebelum leherku dipukul keras oleh polisi kurus berkumis itu, akupun jatuh.
Malam itu aku dibangunkan paksa oleh para polisi jahannam itu. Seperti seorang sandera aku diikat dengan mulut tertutup, kontan saja pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi yang dilayangkan mereka tak satupun dapat kujawab. Padahal saking bencinya saat itu, yang terdetak dalam fikiranku bukannya menyesali perbuatanku melainkan hendak memaki-maki orang-orang yang ada disekelilingku, menyumpah juga menghajar mereka semua.
Romi, salah seorang temanku menjengukku di ruang tahanan sementara. Senyumnya membuatku muak, ucapan yang pertama kali keluar pun adalah cacian padanya. “Bangsat kau, kau liat mukaku memar begini kau malah senyum. Mau kuhajar kau ?” semburku
Romi yang sudah tau watakku malah semakin senyum. “Hei bro, ni ada dua surat dari KEPSEK. Sorry, aku sudah buka duluan. Isinya kau di-skor sampai waktu sidang. Kalau kau dinyatakan bersalah, mampuslah kau”.
“Maksudmu, aku dikeluarkan ?”
“Mmm, otomatis bro.”
“Waduh, bisa gawat. Ayah ibuku bisa marah besar. Eh, yang satunya apa ?” lirihku sambil menggaruk-garuk kepalaku.
“Surat yang satu lagi, buat ayahmu. Dia disuruh datang ke sekolah”
“Aaaaaaaa’. Apa jadinya ini ??? ”
“Eh, sudah dulu ya Nuk, aku mau pulang dulu. Beberapa hari ini teman anak yang kau hajar itu sering mengintaiku. Nanti malah aku jadi korban berikutnya”. Kata Romi sambil berlalu meninggalkanku.
Sore itu, aku terduduk di sel itu sendiri. Penyesalan pun sedikit demi sedikit menyusup di sela-sela kerasnya hatiku. Makian-makian pun terkadang tak sengaja terlontar dari bibirku. “Bodoh kau Ibnu, kurang ajar kau. Tak liat kau rupanya, kalau malam ayah kau sudah seperti kalong mencarikan makan buatmu, tak jua kau liat mak-mu yang jika malam ia menangis merindukanmu ?. Tak jua kau ingat nasib adikmu kelak jika ayah dan makmu sudah tiada sedang kau menjadi berandalan ? Pupuslah pasti cita-citanya hendak kuliah ke Mesir.
Pertanyaan-pertanyaan itu bergantian menghujam dan mencabik-cabik hatiku. Merembes juga air dari mata yang tak pernah menangis ini. Di sela-sela itu aku siapkan mentalku dihadapan ayah yang tak berapa hari lagi ia akan tiba disini. Melihatku, menatapku, atau mungkin bisa saja ia meludahi mukaku, atau barangkali ia akan menghajarku habis-habisan, memakiku, menelanjangiku. Atau malah ia menangis melihat keadaanku, merasa tak berhasil mendidik anak, merasa sia-sia menyekolahkanku di MAPK (Madrasah Aliyah Program Keagamaan) . Bagaimana pula rasa malunya di hadapan masyarakat, jika saja mereka semua tau kelakuan anak seorang pegawai kecamatan berkelahi sampai masuk kantor polisi.
Hari yang kutakuti itupun tiba juga. Kejadian-kejadian yang kuprediksikan tak satupun benar adanya. Dengan besar hati, ayahku duduk dihadapanku lalu menatapku, dan ia pun senyum. Ya dia senyum. Aneh fikirku, sudah begitu banyak kelakuan kurang ajar yang kulakukan, ia malah masih bisa tersenyum. Sedetak fikirku, apa ayahku sudah gila ?. Ya, bisa saja ia gila setelah melihatku menjadi seorang penghuni jeruji besi. Tapi tidak ….  Ia tidak gila fikirku setelah ia berucap. “Ibnu, satu lagi pengalaman hidupmu. Yakinlah nak, ini pasti akan berharga buatmu. Kehidupan ini akan semakin sempit jika kamu selalu memikirkan bahwa dunia ini sempit. Makanya, cobalah untuk punya seorang teman yang bisa menjadi penasehat dikala kamu sulit, juga yang bisa menjadi pengingat jika kamu dalam senang. Teman yang bisa kamu ajak senang dan sedih. Teman yang bisa kamu jadikan segala-galanya, bukan teman yang maunya hanya mengambil yang enak-enaknya saja darimu”.
“Ingat juga akan hari esokmu. Aku yang hari ini menjadi andalanmu besok atau lusa pasti tak akan bisa berkutik didepan malaikat maut, ibumu pun juga begitu. Sup, ayah sudah bicarakan penyelesaian kasus ini dengan pihak keluarga anak itu, dan alhamdulillah mereka bisa memaafkanmu. Setelah ini kau datangi mereka pintalah maaf”.
Tak banyak kata-kata yang sanggup kuucapkan, nasihatnya kali ini benar-benar menghujam dalam dadaku, seperti unta aku siap untuk diseret oleh tuannya kemanapun maka kali ini aku akan siap untuk dikendalikan oleh fikiran-fikiran positif yang sedikit demi sedikit bermunculan mengisi otakku. Sa akunu khairan min el-aan (Aku Akan Lebih Baik Dari saat ini) .
Sujud aku dikakinya, kucium penuh ta’zhim. “Terimakasih yah”. Ucapku sendu.
Lalu, beberapa menit setelah ayah meninggalkan ruangan itu. Seorang polisi mendatangiku. “Kau bebas hari ini, pihak keluarga anak yang kau pukuli itu telah memaafkanmu”. Tutur polisi kurus berkumis tebal itu padaku.
Aku terjaga dari lamunan ku ketika ku mendengar suara lantunan ayat suci al-Qur’an membahana keseluruh penjuru kota yang menandakan sebentar lagi akan memasuki Shalat Ashar, segera ku usap lelehan air mata ku yang mengalir lembut kekedua pipiku, dan aku langsung menuju kamar mandi di lantai dua gdung putih untuk berwudhu’

Dikutip dari novel “Sunset Bersamamu” karya:Dian Oka Putra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s