Sholat Istisqa..Solusi Kemarau Panjang Di Tanah Ini

Sebagai upaya untuk mengurangi asap di Provinsi Riau, mari kita meminta solusi kepada Allah melalui Shalat Istisqa’, yang insya Allah akan diadakan di beberapa tempat di Kota Pekanbaru. Silahkan hadir di tempat-tempat yang terdekat dari Anda. Semoga hujan segera turun dan udara di Riau kembali menjadi bersih. Aamiin.

image

Istisqa’ menurut pengertian syariat adalah memohon kepada Allah agar menyirami hamba-hamba Nya dengan hujan ketika mereka membutuhkannya.
Shalat Istisqa’ adalah shalat sunnah yang dilaksanakan bertujuan untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan ketika butuh kepada hujan.

Shalat sunnah istisqa’ disyariatkan pada bulan Ramadhan tahun 6 H.

Shalat sunnah istisqa’ adalah ibadah yang disyariatkan agama, berdasarkan ayat-ayat al–Qur’an, hadis Nabi, dan ijma’.
Allah berfirman:
Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. (QS: al-Syura 28)
Allah berfirman:
Mohonlah ampun kepada tuhan Mu, Sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. (QS: Nuh 10-11)

Dari kedua ayat diatas dijelaskan bahwa yang mampu menurunkan hujan adalah Allah, maka ketika kita butuh hujan disyariatkan untuk meminta hujan kepada Allah.

Rasul shallallhu ‘alaihi wa sallam melakukan sendiri shalat istisqa’. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim al-Anshari al-Mazini ia berkata, Rasul shallalhu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya untuk melakukan istisqa’, kemudian ia shalat dua rakaat, ia membaca bacaan shalat dengan jahar pada kedua rakaat itu, ia merubah posisi sorbannya dan berdoa meminta hujan. (HR. Bukhari)

Hukum Melaksanakannya
Sunnah hukumnya melaksanakan shalat istisqa’ ketika dibutuhkan hujan. Shalat istissqa’ bukan shalat yang diwajibkan. Sunnah dilakukan secara individual dan secara berjamaah. Sunnah dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Sunnah dilakukan oleh orang yang sedang mukim dan sunnah dilakukan oleh orang yang sedang bepergian/musafir. Karena semuanya sama-sama membutuhkan.

Sebab Melaksanakan Shalat Istisqa’
Karena kita butuh hujan.
Bisa jadi sebab-sebab butuh itu karena;
1. Hujan sudah lama tidak turun sama sekali
2. Terjadi kekeringan
3. Kadar air yang tersedia sangat minim, sehingga tidak memadai dalam memenuhi kebutuhan
4. Air yang ada tidak layak dipakai
5. Sumber-sumber air mengering
6. Perlu penambahan kadar air.
7. Dan sebab-sebab lainnya.

Di Riau, kebutuhan kita adalah untuk memadamkan api yang masih membakar lahan-lahan di Riau dan membuat udara menjadi bersih kembali.

Macam-macam cara meminta hujan
1. Berdo’a secara mutlak. Setiap kali berdo’a, menyelipkan permintaan meminta hujan kepada Allah.
2. Berdo’a di dalam shalat, setelah shalat, saat khutbah, saat thawaf. Bisa dilakukan seperti qunut nazilah, yaitu berdo’a setelah ruku’ rakaat terakhir pada setiap shalat fardu.
3. Menyelenggarakan shalat istisqa’.

Persiapan pelaksanaan shalat istisqa’
Persiapan dilakukan dengan cara imam/ pemimpin/ tokoh masyarakat/ orang yang berpengaruh di suatu komuniatas mengajak masyarakat untuk melaksanakan shalat istisqa’, sebelum shalat dilakukan beberapa hal, yaitu:
1. Imam/ pemimpin/ tokoh masyarakat/ orang yang berpengaruh di suatu komunitas berkhutbah/mengajarkan masyarakat tatacara pelaksanaan shalat istisqa’.
2. Imam/ pemimpin/ tokoh masyarakat/ orang yang berpengaruh di suatu komunitas mengajak masyarakat agar bertaubat yang sungguh-sungguh, meninggalkan segala kezhaliman yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, dan memperbaiki hubungan silaturrahmi dan hubungan sesama anggota masyarakat.
3. Mengajak masyarakat agar bershadaqah kepada fakir miskin, mengerjakan ketaatan, mengerjakan segala kebajikan, dan mendekatkan diri kepada Allah.
4. Mengajak masyarakat agar berpuasa 3 hari berturut-turut sebelum hari pelaksanaan shalat istisqa’. Pada hari ke empat semua lapisan masyarakat keluar ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat istisqa’ dan mereka dalam keadaan berpuasa. Kata Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “tiga kelompok manusia yang do’anya tidak akan ditolak adalah do’a seorang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka puasa, do’a seorang pemimpin yang adil, dan do’a orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi)
5. Keluar ke tanah lapang dengan memakai pakaian untuk bekerja sehari-hari di ladang, di kebun, dan di pasar atau pakaian bersahaja/sederhana. Tidak dianjurkan berdandan dan memakai pakaian yang bagus-bagus. Sebaiknya shalat istisqa’ diikuti juga oleh anak-anak dan orang tua yang sudah sepuh. Karena orangtua yang sudah sepuh memiliki hati yang lembut dan anak-anak belum memiliki dosa. Dengan demikian lebih diharapkan do’a segera diijabah oleh Allah.
6. Setiap orang yang ikut shalat istisqa’ hendaklah menjadikan syafaat setiap amalan shalih yang pernah dilakukannya (bertawassul dengan amalan shalih masing-masing).

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa’
1. Shalat tidak dimulai dengan azan dan iqamah. Ketika imam hendak mengajak jamaah untuk memulai shalat, ia dianjurkan untuk mengucapkan al-shalatu jam’iah (الصلاة جامعة).
2. Shalat istisqa’ dilaksanakan 2 rakaat
3. Niat shalat istisqa’
اصلى سنة الاستسقاء لله تعالى
Ushalli sunnata al-istisqa’ lillahi ta’ala
Saya bermaksud melaksanakan shalat istisqa’ karena Allah subhanahu wa ta’ala
4. Pada rakaat pertama bertakbir 7 kali.
Setelah membaca do’a iftitah, melakukan takbir 7 kali. Setelah selesai takbir, membaca ta’awwuz dan al-Fatihah. Imam membacanya dengan jahar.
5. Pada rakaat pertama dianjurkan imam membaca surat Qaf atau surat al-a’la
6. Pada rakaat kedua bertakbir 5 kali.
Setelah selesai takbir, membaca al-Fatihah.
7. Pada rakaat kedua dianjurkan imam membaca surat al-Qamar atau surat Nuh atau surat al-Ghasiyah.

Khutbah Istisqa’
Setelah pelaksanaan shalat istisqa’ dianjurkan melakukan khutbah seperti halnya shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Namun pada pembukaan khutbah pertama dianjurkan membaca istigfar sebanyak 9 kali sebagai pengganti takbir 9 x pada khutbah Idul Fithri dan Idul Adha. Dan beristigfar sebanyak 7 kali pada permulaaan khutbah kedua. Bisa dibaca dengan redaksi
استغفر الله الذى لا اله الا هو الحى القيوم
Astagfirullah al-ladzi la ilaha illa huwa al-hayyu al-qayyum

Tema khutbah sebaiknya membahas tentang istisqa’/ meminta hujan kepada Allah dan menutup khutbah dengan istigfar.

Dianjurkan pada khutbah pertama berdo’a seperti do’a yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dari Abdullah bin Umar
اللهم اسقنا غيثا مغيثا هنيئا مريئا مريعا غدقا مجللا طبقا سحا عاما دائما. اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين. اللهم ان بالعباد والبلاد  من اللاواء والضنك والجهد ما لا نشكوه الا اليك. اللهم انبت لنا الزرع وادر لنا الضرع واسقنا من بركات السماء وانبت لنا من بركات الارض. اللهم ارفع  عنا الجهد و الجوع والعرى واكشف عنا من البلاء ما لا يكشفه غيرك. اللهم انا نستغفرك انك كنت غفارا فارسل السماء علينا مدرارا

Dianjurkan juga untuk banyak beristigfar di dalam khutbah.

Pada awal khutbah kedua, setelah membuka khutbah dan dilanjutkan dengan istigfar 7 x, khatib menghadap kiblat dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a. Dan khatib merubah posisi sorban yang dipakainya. Bagian atas sorban dibalikkan menjadi bagian bawah, bagian kanan dibalikkan menjadi bagian kiri, dan bagian depan menjadi bagian belakang. Jikalau bentuk sorbannya persegi empat, sorban dibalikkan dan diputar agar bagian belakang menjadi bagian depan. Jikalau alas kepalanya bulat seperti kopiah orang Indoneaia, cukup diputar saja posisi kopiah yang awalnya di depan menjadi di belakang. Jamaah juga dianjurkan merubah posisi sorban/kopiahnya. Posisi sorban dan kopiah yang sudah ditukar sebaiknya tidak dikembalikan ke posisi awal kecuali setelah sampai di rumah setelah pulang melaksanakan shalat istisqa’.

Jamaah mengaminkan do’a yang dibaca oleh khatib. Dan dianjurkan mengangkat tangan ketika berdo’a. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan sampai nampak ketiak beliau ketika mengangkat tangan pada saat berdoa dalam khutbah istisqa’.

Setelah selesai berdoa, khatib kembali menghadap kepada jamaah melanjutkan khutbah seperti khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan mengajak mereka untuk taat kepada Allah, khatib lalu bershalawat kepada Nabi, membaca satu ayat al-Qur’an atau dua ayat, dilanjutkan berdoa untuk kaum muslimin dan muslimat secara umum, dan menutup khutbah dengan bacaan istigfar. استغفر الله لى ولكم

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s