Cinta Sejati

Bila cinta memanggilmu, kau ikuti kemana ia pergi, walau jalan terjal berliku, dan kau biarkan sayapnya merangkulmu walau pisau tajam dibaliknya siap melukaimu”.
~(Khalil Gibran)~

Untaian kata diatas adalah sepenggal kata yang layaknya patut kita renungkan dan resapi lagi, dimana sebagai makhluk yang di ciptakan Allah SWT dengan segala sifat dan karakternya yang khas, manusia diberkati dengan akal pikiran, nafsu, dan juga cinta.

11146180_406475866217256_5204022195360819256_n
Apa definisi dari cinta itu sendiripun mungkin banyak dari kita yang tidak memahaminya secara pasti, apakah cinta itu adalah suatu anugerah yang diberikan Allah untuk sgenap hambanya? Atau cinta hanya sebuah topeng bagi mereka yang sedang dimabuk asmara? Atau cinta itu hanya sebuah alasan dibalik keinginan kita untuk terus bertahan menjalani hidup ini dengan segala suka dukanya?
Tidak bisa kita pungkiri membicarakan masalah cinta memang seolah takkan ada habisnya. Sejak zaman Nabi Adam AS hingga masa sekarang. Cerita Cinta Menghiasi kisah Potret anak manusia dengan segala tingkah dan pola pikirnya. Cerita cinta juga mampu menjadi komoditi yang laris manis dipertontonkan dan “Diperjualbelikan”. Di acara-acara televisi kita, didalam tayangan film, dan didalam kisah novel. Cerita cinta menghipnotis orang untuk berfikir dan berbuat hingga hal tergila sekalipun, cerita cinta mampu menerobos batas antara sisi benar dan salah, antara hitam dan putih, antara kerinduan dan kebencian dan antara khayalan dan rasionalis. Hal itupun masuk kedalam rumah-rumah kita, ruang kerja kita, dan ditempat umum kita saling bertegur sapa dan berinteraksi. Benarkah akhirnya manusia bisa hidup tanpa cinta? Lalu apa sebenarnya hakikat dari pengertian cinta itu sendiri, yang ia begitu banyak mempengaruhi perjalanan hidup manusia? Orang-orang dibalik perjalanan kisah cinta kadang-kadang melukiskan perjalanan cinta merupakan perjalanan yang sangat berarti dalam hidup mereka, hingga tak jarang kita menyaksikan manusia yang rela menangis atau bahkan bunuh diri ketika cintanya tak terbalas, ketika cinta yang selama ini dijalaninya ternyata malah meruntuhkan perasaannya dan meneggelamkan segala mimpi indahnya.
Lalu pertanyaannya, mengapa masih ada orang yang mau bercinta? Ditengah-tengah tragedi pilu yang lalu yang meungkin menghantui perasaan batin sebagian orang yang merasa dirugikan ataupun disakiti dari sebuah hubungan percintaan. Tidakkah tragedi-tragedi pilu masa lalu diseputar cerita cinta itu tak mampu memberikan pelajaran yang berharga begi setiap orang untuk merenungkan kembali hasratnya yang ingin merajut tali hubungan cinta?
Tanpa disadari kita lebih memilih untuk menilai dan menjalani cinta dari sisi romantismenya sebab kita merasa terlalu tinggi untuk mengkaji apa sebenarnya pengertian dan nilai-nilai hakiki dari suatu cinta . Tapi disitulah letak permasalahannya. Seperti sya’ir masterpiece Khalil Gibran diatas yakni ” Bila cinta memanggilmu, kau ikuti kemana ia pergi, walau jalan terjal berliku, dan kau biarkan sayapnya merangkulmu walau pisau tajam dibaliknya siap melukaimu ”. sehingga kitapun sering mengabaikan akal logika, sebab bagi mereka ketika dihadapkan pada sebuah hasrat cinta. Atau memang benar sebagian pendapat orang bahwa cinta itu memang tak perlu logika, sebab bagi mereka logika merupakan bagian dari cinta, cinta dengan mengikut sertakan logika akan membuat orang takut akan jatuh cinta, dan cinta dengan logika akan mengabaikan sisi romantisme dari cinta itu sendiri.
Adalah keinginan setiap orang diatas dunia ini untuk mencintai dan dicintai, laki-laki diberi perasaan dan ketertarikan kepada wanita, begitupun sebaliknya. Akan tetapi tetap saja akal dan hati seyogyanya disandingkan ketika merajut tali hubungan cinta, sebab dari situlah akan berbuah manis hakikat dari selama ini nilai cinta yang dikejar orang. Ketika akal dan hati disandingkan, maka perasaan yang timbul dari kedua pasangan cinta adalah perasaan besar untuk saling menyayangi dan mengasihi, untuk melindungi dan menghargai, untuk saling memui, dan untuk saling menjaga keutuhan hubungan dan parasaan. Sedangkan cinta tanpa memperdulikan akal dan hati bisa menjadi hubungan percintaan yang saling menyakiti, saling menjatuhkan, saling mengolok-olokkan , saling bertentangan, saling mempertontonkan keburukan, dan saling mengutamakan perasaan dan kepentingan masing-masing. Tidakkah ketenangan dan juga perasaan nyaman dan bahagia yang diidam-idamkan oleh setiap manusia yng saling mencintai? Lalu bagaimana pula jadinya ketika hubungan antara dua anak manusia berlainan jenis ini malah membawa kesedihan, keterpurukan hati, dan kerugian diri pribadi dan orang-orang disekitarnya? Sebagai akibat dari wadah tempat berdiamnya cinta itu tidak ditata rapi dari awal, sehingga proses cinta yang dijalani tak didukung dan didasari secara kuat oleh akal sehat dan hati yang menjunjung tinggi nilai-nilai rasa kasih sayang dan saling menghargai kehormatan diri, lalu pada akhirnya apapun jalannya akan dilewati walau terjal yang menyakitkan.
Apapun jalan yang bisa menyampaikan hasrat orang-orang yang sedang dimabuk asmara ini akan ditempuh meski berbahaya dan berakibat buruk bagi hubungan antara manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan tuhannya.
Lalu, pantaskah cinta seperti ini diagung-agungkan? Ibarat badai topan yang menerjang, cinta yang tidak dilandasi akal sehat dan hati tulus suci untuk mencintai adalah lebih parah lagi dari pada hanya suatu badai topan. Dimana badai topan meluluh lantakkan benda-benda yang dilewatinya hanya dalam hitungan menit dan sekali terjang. Cinta tak berdasar ini meluluh lantakkan pengikutnya secara perlahan tapi pasti, hingga pada akhirnya menghantarakan mereka ketepi jurang yang akan melumatkan dan mengahncurkan tubuh mereka secara berkeping-keping ketika mereka terperosok jatuh kedalamnya, disaat seperti itu, tak ada lagi romantisme cinta , tak ada lagi kata-kata mesra sebagai musik penghantar nina bobok tidur (Sleeping Lullaby), tak teringat lagi janji manis, tak ada lagi kata sayang, dan tak ada lagi kata pujaan hati. Yang hanya ada kebisuan dan potret buram penyesalan diri tak berguna sehingga muncul kata-kata “mengapa aku memilih dia sebegai orang yang kucintai?” taka ada guna penyesalan, jika pada akhirnya cinta yang tak berdasar itu telah membuktikan hakikat dirinya kepada orang-orang yang mengagung-agungkannya. Sekali lagi walau masih sulit memahami definisi cinta yang sebenarnya. Tetepi marilah kita mencoba merenungkan Firman Allah dalam surat Al-Ankabut Ayat 64:
“dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”
Sekali lagi pastilah disisi Allah lah perihal dan pahala yang lebih baik dari dunia ini. Mudah-mudahan kita mampu mengaktualisasikan cinta kita pada jalan yang diridhoi dan disayangi Allah. Mungkin dengan cara itulah kita mampu menemukan pengertian cinta bahwa ia merupakan salah satu anugerah indah yang diberikan Allah pada segenap hambanya dan mampu menemukan cinta sejati kita. Meskipun pada akhirnya nanti kita belum juga mampu menemukan pengertian cinta sebagai suatu anugerah, minimal dengan keyakinan kita bahwa cinta patut dengan layak untuk diaktualisasikan lewat cara-cara yang benar, maka sesungguhnya kita sudah berusaha untuk tidak mengotori dan berbuat kerusakan di muka bumi Allah ini, Wallahu ‘alam Bisshowab.
* Anggota ALINEA (Angkatan Ke-5 Negeri Sastra) FLP Cab. Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s