Perjuangan Mahasiswa, Takkan Berhenti Sampai Disini

Sejarah Indonesia penuh dengan tinta emas para pemuda dan mahasiswa seperti peristiwa, Tritura 1966, Malari 1974, Reformasi 1998 dan sebagainya menjadi sejarah emas pergerakan mahasiswa, peran serta dalam sejarah kemerdekaan Indonesia akan terlihat bagaimana peran mahasiswa jelas-jelas menjadi segolongan agen perubahan.Sejarah mencatat betapa heroiknya peran-peran mahasiswa dalam membela kepentingan rakyat dan memperjuangkan HAM. Berbagai rezim di berbagai belahan bumi menjadi “korban” idealisme yang diusung oleh mahasiswa yang berjuang atas nama kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak. Di Indonesia, kisah pergantian kekuasaan negara diwarnai oleh gelombang besar gerakan mahasiswa hingga pelosok-pelosok desa, membahana dan memecah keambiguan demokrasi yang sudah dikekang oleh rezim yang berkuasa selama beberapa waktu. Gerakan mahasiswa menjadi cikal gelombang gerakan sosial untuk melawan tirani yang menindas rakyat.
Dipundak mahasiswa tersemat sederet titel sosial mulai dari agent of change (agen perubahan), agent of social control (agen kontrol sosial).disini Agen merupakan istilah yang sangat vital dalam bertindak dan sering diungkapkan oleh Antony Gidden dalam menjelaskan disparitas antara struktur dan actor. Bagi Gidden, agen merupakan perangkat tertinggi untuk memberikan pengetahuan dan penyadaran terhadap masyarakat dalam hal melakukan perubahan. Dari istilah ini, identitas agen yang disandang merupakan tanggung jawab mahasiswa sebagai ikon pertama dalam melaksanakan perubahan.Selain itu, identitas yang juga dilekatkan pada mahasiswa adalah agent of social control. Disinilah sebenarnya mahasiswa dipertaruhkan.
Mahasiswa seolah-olah berada dalam system, namun diluar struktur. Sosok yang selalu ikut andil dalam setiap gerakan perubahan social di Indonesia dan sekaligus sosok yang memiliki kesadaran kritis yang peka terhadap segala bentuk penindasan, dan selalu resisten terhadap the dominant ideology, independent dan tanggung jawab kepada mahasiswa tersebut cukup beralasan. Karena dikalangan mereka lebih cepat terjadi keinginan untuk mengadakan revisi terhadap harapan social yang dikenakan kepada mereka. Mereka lebih peka terhadap kehidupan social. Disamping itu, mereka lebih mempunyai kemungkinan untuk tampil sebagai pengganti pimpinan masyarakat dan Negara. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi pembaharu social, baik sebagai intelektual maupun intelegensia itu jelas terekam oleh kacamata sejarah dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai rezim di berbagai belahan bumi menjadi “korban” idealisme yang digusung oleh mereka, itu semua hanya untuk kepentingan dan kemashlahatan rakyat banyak.Gerakan mahasiswa menjadi cikal gelombang gerakan sosial yang meng untuk melawan tirani yang menindas rakyat.Dalam konteks ini, mahasiswa memegang peranan signifikan dalam rangka mengawal proses-proses pembentukan karakter sebuah bangsa karena ditangan mahasiswa lahirnya sebuah perjuangan melawan penindasan, kamiskinan yang semakin melilit bangsa indonesia. Idealisme mahasiswa masih sarat dengan sebuah perjuangan kemanusiaan yang diusung mahasiswa, ditangan mahsiswalah sebuah revolusi terjadi, itu sebabnya mahasiswa mampu mewakili rakyat yang tertindas dalam melawan sistem tirani yang berkuasa. Masalah kemiskinan, pangangguran, dan minimnya perhatian institusi negara terhadap aspek pendidikan nasional juga bukan problem yang sederhana. Kemelaratan dan merosotnya partisipasi masyarakat serta buruknya pelayanan public telah membawa konsekuensi buruk terhadap stabilitas nasional disetiap lini-lini penting. Dan hal ini saya prediksikan sebagai awal dari pada kehancuran bangsa.
Partisipasi mahasiswa dalam melakukan Kontrol sosial (control social) memang dirasa penting untuk menghindari gejolak besar pada tatanan social saat ini. Sejarah perlawanan mahasiswa memang tak bisa kita pungkiri lagi kehadirannya. Tumbangnya rezim orde baru adalah salah satu dari pergerakan perlawan yang jenius dan sukses dilakukan oleh mahasiswa saat itu. Oleh karenanya, untuk mempertahan kan kestabilan dan menghindari kemerosatan serta arus gelombang besar yang melanda bangsa ini tentunya harus dilakukan oleh generasi muda intelektual (mahasiswa).
Sang Pejuang Jalanan Pembela HAM
Mahasiswa adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Dalam bahasa Inggris, mahasiswa biasa disebut dengan “student”. Mereka tidak memiliki istilah khusus untuk menyebut mahasiswa layaknya orang Indonesia. Dari pengertian tersebut, mahasiswa bias diartikan sebagai “golongan terpilih” atau “pemuda elite” karena mereka adalah pemuda terpelajar. Selain itu mereka juga memiliki harapan besar kepada golongan ini. mahasiswa memiliki potensi yang sangat besar dalam melakukan proses perubahan. Mahasiswa adalah sosok yang suka berkreasi, idealis dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator dengan gagasan dan tuntutannya. Mahasiswa mampu bersikap sensitif terhadap permasalahan-permasalahan tidak hanya dibidang sosial dan budaya saja, tetapi juga pada bidang ekonomi, politik, dan keamanan. Hal ini semakin memperkuat identitas mahasiswa sebagai elit masyarakat atau masyarakat ilmiah yang tidak pernah padam idealismenya. Melalui gerakan mahasiswa 1966 dan 1998, telah terbukti bahwa mahasiswa melalui organisasinya baik yang bersifat internal kampus maupun eksternal kampus mempunyai bargaing position tersendiri yang ikut serta dalam menentukan maju atau mundurnya negara dan bangsa.
Mungkin mahasiswalah yang sanggup memposisikan dirinya sebagai garda paling terdepan dalam pembala HAM para kaum tertindas oleh kediktatoran para penguasa. Setiap aksi demonstrasi yang teraktualisasi dalam sebuah gerakan massal mahasiswa yang menginginkan adanya sebuah keadilan dalam menjunjung tinggi sebuah HAM, Idealnya adalah bahwa setiap gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa memang semata-mata hanya dan untuk membela kepentingan rakyat yang tertindas dengan kata lain mahasiswa sebagai ‘pembela rakyat’ ditengah hegemoni kekuasaan yang mengkooptasi rakyat. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang sarat dengan ‘budaya ilmiah’ dan senantiasa menjadikan ‘saintifik-rasional’ sebagai ukuran setiap tindakan. Berangkat dari sebuah sejarah awal perjuangan mahasiswa di era awal pembentukan NKRI yaitu Gerakan mahasiswa pra-kemerdekaan, Masa awal munculnya gerakan kaum terdidik ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 oleh mahasiswa Stovia. Ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual akan kekejaman bangsa penjajah terhadap orang pribumi. Kemudian disusul dengan lahirnya Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Gerakan awal ini memiliki misi utama untuk menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan.
Setelah itu, kelompok-kelompok studi sebagai wadah artikulatif dikalangan mahasiswa dan pelajar mulai marak dan terus berkembang. Hingga puncaknya ditandai dengan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dicetuskan melalui Kongres Pemuda II di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928. Peristiwa ini merupakan kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda pada saat itu. dari persatuan-persatuan mahasiswa diatas, inti dari setiap perjuangan mereka adalah untuk membela kepentingan rakyat yang tertindas dan terzhalimi hak-haknya sebagai manusia oleh para penjajah.Berdasarkan sejumlah masalah yang muncul sikap menentang terhadap penjajah, tidak mau berdamai serta tidak kenal kerja sama. Pada konteks perjuangan “Tempo Dulu”, mahasiswa dan kaum intelektual seperti Ir.Soekarno, Drs.Moh. Hatta, dan rekan-rekan telah menjadi motor penggerak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Momentum persatuan bangsa yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda pun juga tidak lepas dari gagasan tokoh intelektual seperti Prof Mr Sunario Sastroward…oyo. Hal tersebut dapat membuktikan peran aktif mahasiswa dan kaum intelektual melalui pola pikir mereka yang kritis dan visioner dalam sejarah pembangunan bangsa. Seiring berjalannya waktu, mahasiswa yang mewakili kaum intelektual selalu dapat menjadi pilar-pilar penopang bagi pembangunan bangsa. Di era globalisasi sekarang ini, dimana permasalahan yang timbul dalam usaha pembangunan bangsa semakin kompleks , peran mahasiswa sebagai pilar penopang semakin banyak dituntut. Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mampu memberikan solusi praktis dalam menjawab permasalahan tersebut, disamping peran aktifnya sebagai pengamat pemerintahan dan pembela aspirasi rakyat. Oleh karena itu, ditengah- tengah kompleksitas permasalahan yang timbul, mahasiswa seharusnya juga harus bisa memberikan solusi praktis,
Sejarah dunia telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover yang membuat terjadinya perubahan politik pada suatu Negara. Secara empirik, kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian penggulingan kekuasaan, antara lain seperti: Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Ayub Khan di Pakistan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipina tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998, Di sini lah mahasiswa memainkan peranan yang cukup besar. Mahasiswa adalah golongan yang bebas dan independen dari politik dan partai. Mereka berjuang atas nama mahasiswa. Mereka jatuh, mereka bangun, mereka tumbang, mereka bangkit, mereka dipasung, mereka dirajam, semua atas nama mahasiswa. Inilah yang seharusnya berlaku. Dengan adanya kebebasan dari cengkaman partai politik manapun, maka mahasiswa akan secara otomatis merasa terpanggil untuk membela nasib rakyat yang tertindas,tanpa mempadulikan keuntungan yang meraka peroleh. Dan semua yang mereka lakukan adalah untuk membela kepentingan rakyat yang tertindas dan terzhalimi. dengan kata lain idealisme mahasiswa dengan kekuatan berbasis moral (moral force) yang menjadi tulang punggung rakyat harus tetap menyala, terbebas dan independen. Jika hal ini benar-benar terlaksana maka pada gilirannya demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa-mahasiswa bukan hanya sekedar ritual demokrasi, namun untuk membela kepentingan rakyat. Oleh sebab itulah Demonstrasi Mahasiswa disebut juga sebuah Gelaran Moral kaum Intelektual untuk membela kepentingan rakyat.
Oleh sebab itulah mahsiswa ditempatkan sebagi kaum intelektual yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan pesan, pandangan, sikap kepada publik yang tujuan dari aktualisasi tersebut melahirkan kebebasan untuk memotivasi dan menggugah rasa kritis orang lain agar berani menghadapi ortodoksi, dogma, serta tidak mudah dikooptasi kuasa tertentu, sehingga intelektual harus selalu aktif bergerak dan berbuat dengan ketajaman nalarnya.Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai representasi dari kaum intelektual berdasar pada pertimbangan-pertimbangan ilmiahnya sudah seharusnya mampu mengelaborasi antara teori dan praktik. Demonstrasi sebagai sebuah gelaran demokrasi harus bisa memfungsikan intelektualitas yang dimilikinya sebagai sarana pengukur kebijakan-kebijakan pemimpin yang menindas rakyat, karena intelektualisme yang hampa dari agenda humanisasi adalah sebuah pengkhianatan terhadap nurani kemanusiaan.Kekuasaan yang menghegemoni rakyat terimplementasi dalam bentuk-bentuk ketidakadilan, penindasan serta bergulirnya kebijakan-kebijakan yang tidak populis adalah sangat wajar jika membuat mahasiswa turun tangan untuk membantu rakyat dari ketidakadilan dan penindasan, kooptasi yang dilakukan pemerintah sama halnya menabuh ‘genderang perang’ kepada mahasiswa. Namun perlu diingat demonstrasi sebagai salah satu saluran dialog antara rakyat dan pemerintah tidak harus diselesaikan secara anarki sebagai konsekuensi logis dari pemilik ‘nurani intelektual’ yang dimiliki mahasiswa terkandung nilai-nilai ideologis keutuhan kemanusiaan dan keadilan universal yang selama ini disuarakan oleh mahasiswa.
Meskipun kekuatan dari aksi-aksi mahasiswa berorientasi pada aksi massa saja, tetapi dengan kolektifitas mereka mampu menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa mahasiswa ialah suatu generasi muda yang peduli terhadap problem-problem yang terjadi. Pergerakannya merupakan perpanjangan dari aspirasi rakyat sebagai bentuk keikutsertaan masyarakat terhadap kelangsungan politik bangsa. Sebagai insan intelektual, mahasiswa tidak hanya berfokus pada edukasi yang diperoleh di kampus mereka saja, mereka memiliki tanggung jawab lain yaitu sebagai pelopor pembela rakyat yang tertindas, dengan pola pikir yang kritis dari mereka mampu mengkritisi pihak pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Perlawanan yang dilakukan merupakan bentuk dari koreksi dan kontrol dari sistem pemerintahan yang berlaku. Mahasiswa juga disebut sebagai agen perubahan sosial ( social change ) karena mampu merubah keadaan sosial di suatu negara. Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebihlagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan,dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam.Kehadiran gerakan mahasiswa — sebagai perpanjangan aspirasi rakyat —- dalams ituasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaankesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi visa vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan padaupaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yangterjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu,motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuatlebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya. Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan
jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi
kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu
penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu
berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia
telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi
hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan
mahasiswa.
Kesimpulan
Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang termasuk dalam golongan pemuda elite yang memiliki peran khusus dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia menjadi agent of change dan agent of social control dan banyak lagi identitas yang juga merupakan tanggung jawab yang dibebankan masyarakat kepada mahasiswa, ditangan para mahasiswa rakyat menumpukan harapan. Dalam sejarah mahasiswa, mereka telah banyak memainkan perannya dalam berbagai masa. Pada masa pra kemerdekaan, mereka ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada masa orde lama, mereka ikut menumpas PKI dan selanjutnya menggulingkan kepemimpinan Soekarno. Pada masa rezim orde baru, mahasiswalah yang menumbangkan rezim tersebut. Pada saat ini, mahasiswa telah mengalami degradasi serta dekadensi dalam berbagai aspeknya. Sebagai generasi yang memilki peran penting dalam menjaga eksistensi bangsa ini, harus segera dilakukan upaya-upaya meningkatkan kembali peran mahasiswa dalam kehidupan social. Menyelamatkan mahasiswa, berarti telah menyelamatkan serta memperpanjang umur bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yangdilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan
politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam
serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di
Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di
Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran
tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di
Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi,
walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi
monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner.
Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis
telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan
rakyat dalam menentang kekuasaan yang tirani.dan sekarang mahsiswa harus benar-benar bisa memposisikan dirinya sebagai pembela HAM kaum tertindas, jaga kepercayaan rakyat untuk tetap senantiasa berada digarda paling depan pemabela hak-hak mereka.Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyambung lidah pemerintah. Mahasiswa diharapkan mampu membantu menyosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat, oleh karena itu tugas mahasiswalah yang marus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s