Kedudukan Akidah Dalam Islam

image

Kerangka bangunan islam terbangun dari 3 unsur utama, yaitu: akidah, syariah, dan akhlak.
Islam seorang muslim akan sempurna bila akidah yang lurus mengakar di dalam dirinya, yang diikuti dengan ketundukan kepada aturan syariah dalam seluruh sikapnya dengan Allah dan makhluk, serta dihiasi oleh akhlak mulia yang menjadi landasan dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Pondasi utama dari ketiga unsur islam adalah akidah. Ia menjadi dasar yang harus dimiliki. Akidah apabila sudah tertanam di dalam diri seseorang, ia sudah menjadi seorang muslim, meskipun tidak melaksanakan kedua unsur lainnya. Tetapi ia mendapat dosa yang menyebabkan ia dihukum oleh Allah. Apabila tidak tertanam akidah yang sempurna di dalam keyakinan dan ilmunya, seseorang tidak dianggap sebagai muslim, meskipun sepanjang hidup ia habiskan usianya untuk beribadah, menjalankan ketaatan, serta melaksanakan seluruh kehidupannya dengan memperhatikan hukum-hukum syariat dan adab-adabnya.

Allah menggambarkan tentang keadaan orang ini dengan firman Nya:
103. Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?”
104. (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka telah mengira telah berbuat baik.
105. Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan denganNya. Maka sia-sia amal mereka dan kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat.
(QS: al-Kahfi 103-105)

Oleh karena itu benar jikalau dikatakan bahwa agama itu adalah akidah saja. Karena akidah adalah dasar/ pokok dari segalanya. Seseorang dianggap beragama jika ia membenarkan dan mengakuinya dengan keyakinan yang sempurna tanpa ada perubahan dan tidak ada yang dikurangi, serta menyerahkan dirinya untuk melaksanakan seluruh rukun-rukun islam. Untuk bisa disebut islam, tidak disyaratkan ia harus menjalankan islam dalam praktek perbuatannya dalam kegiatan ibadah atau seluruh hukum-hukum islam yang lain, meskipun kelalaian melakukannya menyebabkan seseorang menjadi fasik, menjadikan akidahnya rapuh, dan selalu mengalami goncangan.

AQIDAH YANG BENAR TIDAK MUNGKIN BERBILANG DAN SALING BERTENTANGAN
Substansi Akidah islam tidak berbeda sejak diutusnya Adam menjadi Rasul sampai diutusnya Penutup seluruh Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad. Substansi akidah yang didakwahkan oleh para Nabi dan Rasul secara estafet adalah: beriman dengan keberadaan Allah dan keEsaanNya, mensucikanNya dari segala sifat yang tak layak baginya, yaitu dari segala sifat yang menunjukkan kekurangan, beriman kepada hari akhir, pertanggungjawaban amal (hisab), surga, neraka, dan lain-lain. Seluruh Nabi dan Rasul mengajak kaum masing-masing untuk meyakini akidah ini. Setiap mereka berperan meneguhkan keyakinan- keyakinan yang telah ditanamkan oleh Nabi-Nabi sebelum mereka dan sekaligus memberi kabar berita tentang Nabi yang akan diutus setelah mereka.

Inilah yang dijelaskan oleh Allah dalam beberapa ayat al-Qur’an
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS: al-Anbiya’: 25)

Dan firman Nya:
Dia Allah telah mensyariatkan kepadamu agama yang diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketaqwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.
(QS: al-Syura: 13)

Jika diamati dengan seksama penuturan ayat-ayat al-Qur’an, kita akan mendapati bahwa islam adalah sebuah nama yang sudah lama dan selalu dipakai sebagai nama untuk akidah ini. Perhatikanlah beberapa ayat al-Qur’an berikut:
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi adalah seorang yang lurus, muslim, dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.
(QS: Ali Imran: 67)

125. Mereka (para penyihir) menjawab, “Seungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,
126. Dan engkau tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. “(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepadaMu).”
(QS: al-A’raf 125-126)

Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka (Bani Israil), dia berkata, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyyun (sahabat setianya) menjawab, “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim.
(QS: Ali Imran: 52)

Dari penjelasan ayat-ayat al-Quran, diketahui bahwa agama yang benar hanya satu dan tidak berbilang. Sedangkan kalimat yang mengatakan bahwa ada beberapa agama-agama samawi yang sering disebut berulang-ulang oleh orang-orang awam adalah pernyataan yang salah, karena agama samawi hanya satu, yang dijelaskan oleh para Nabi dan Rasul silih berganti. Dan untuk mendakwahkan akidah yang satu itulah mereka diutus!

Bagaimana mungkin agama yang benar akan beragam dan saling bertentangan yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul, karena agama adalah akidah seperti yang sudah dijelaskan. Pembicaraan akidah adalah salah satu bentuk berita dan berita yang satu tidak mungkin diberitakan dalam berbagai bentuk dan berbagai model yang saling bertentangan, kemudian semua itu dianggap sebagai satu akidah yang sahih dan benar?!

Perlu disadari bahwa yang selalu berkembang dan berubah-rubah adalah hukum syariat. Hikmahnya, syariat berfungsi untuk menegakkan hukum-hukum yang menjadi aturan untuk menertibkan sistim kehidupan masyarakat dan individu. Sudah menjadi perkara yang jelas, bahwa perkembangan zaman, perbedaan umat, dan suku bangsa akan mempengaruhi terhadap perkembangan syariat mereka. Karena konsep peletakkan hukum dibangun atas dasar keselarasan dengan masalahat manusia untuk menjalani kehidupan duniawi mereka dan untuk pencapaian kehidupan ukhrawi mereka. Kemaslahatan yang selaras ini kerap berubah seiring perubahan waktu dan tempat.

Ringkasnya, bahwa risalah seorang Rasul selalu terdiri atas akidah dan syariat dan peran masing-masing mereka tidak lain selain mengokohkan akidah yang  yang telah diajarkan oleh Nabi sebelum mereka, tanpa adanya pertentangan dan perubahan. Sedangkan konsep peletakkan hukum, syariat setiap Nabi/ Rasul menjadi pengganti (nasikhah) bagi syariat Nabi/Rasul sebelumnya.

Ketika kita mempelajari perkara akidah dan argumentasi-argumentasinya, sesungguhnya kita sedang mempelajari hakikat-hakikat yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba Nya untuk mengimani dan meyakininya, sejak diutusnya Nabi Adam sampai orang-orang akhir zaman nanti. Dan itulah yang menjadi hubungan antara akidah islam dengan akidah-akidah yang dibawa oleh seluruh para Nabi dan Rasul.

Para Ahlu al-Kitab sesungguhnya meyakini keyakinan ini dan mengetahui kesatuan seluruh agama. Mereka tahu bahwa seluruh Nabi datang untuk membenarkan ajaran masing-masing Nabi. Mereka tidak berpecah dan menganut akidah yang berbeda-berbeda yang saling bertentangan. Tetapi Ahlu al-Kitab yang saling berpecah dan bertentangan sesama mereka, serta berbeda-beda dalam menyikapi para Nabi. Maha Benar Allah dengan firmannya:
Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah islam. Orang-orang yang telah diberi Kitab tidaklah berselisih, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara mereka. Siapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitunganNya.
(QS: Ali Imran: 19)

Dari kitab Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah Wujud al-Khaliq wa Wazhifah al-Makhluq, hal. 70-74.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s