Renungan Akhir Tahun (Menyambut 1437 H)

image

Pergantian siang dan malam telah mengantarkan kita kepada pergantian tahun Hijriyah. Kita diingatkan kembali dengan peristiwa Hijrah Nabi dari Makah ke Madinah. Sebuah perpindahan tempat yang menjadi babak baru sejarah islam dan menghasilkan peradaban besar.

Setiap terjadi perubahan –apalagi perubahan tahun- kita sering bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang akan saya lakukan saat ini, apa yang akan saya lakukan hari ini, apa yang akan saya lakukan bulan ini? Apa yang akan saya lakukan tahun ini?
Allah berfirman:
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam, dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu dapat mencari karunia dari Tuhanmu dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (QS: al-Isra’: 12)”

Ketika esok adalah tahun baru islam, mungkin kita bertanya kepada diri kita, “apa yang akan saya lakukan di tahun ini?” Pertanyaan ini kemudian menuntut kita untuk bertanya yang lebih rumit, karena harus mengiventarisir apa yang sudah kita lakukan di tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya? Tentu saja sebagian yang telah lakukan adalah baik dan bahkan sangat baik. Tetapi masih banyak yang menyesalinya karena merasa apa yang dilakukan belum baik atau belum optimal.

Agar kita tidak berkutat dengan keadaan yang tetap dengan suatu kondisi, bahkan cendrung menurun, mari kita coba buka lembaran baru yang bersih dan diukir dengan tinta emas, serta membuahkan keridhaan dari Allah. Barangkali bahan renungan berikut bermanfaat dan membantu kita untuk muhasabah.

Sisi Keimanan
Mari kita periksa diri kita masing-masing, apakah selama ini iman kita memiliki kepekaan yang baik dan menggiring kita kepada ketaatan kepada Allah. Ketika mengetahui bahwa Allah suruh melakukan suatu perintah, apakah kita segera melakukan? Ketika mengetahui bahwa Allah suruh meninggalkan suatu larangan, apakah kita segera meninggalkan? Ketika ada panggilan shalat, apakah kita segera shalat? Apakah hati kita terpanggil untuk membaca al-Qur’an? Ketika ada kemampuan, sudahkah kita mengupayakan menunaikan haji? Ketika ada harta yang bisa disalurkan di jalan Allah, sudah diberikan haknya? Ketika ada orang lain yang membutuhkan bantuan, sudahkah dengan spontanitas kita segera membantu? Apakah kita sabar dalam melalui ujian-ujian dari Allah? Apakah kita disiplin melaksanakan ketaatan-ketaatan yang harus dilakukan menurut agama?

Sisi Keilmuan
Jikalau Anda seorang akademisi atau pelajar secara non formal pada suatu disiplin ilmu tertentu, layak juga untuk dievaluasi, bagaimana pencapaian ilmu selama ini? Dan target apa yang mau dicapai dengan ilmu yang dikuasai ini? Kemaslahatan apa yang bisa disumbangsihkan kepada umat setelah berhasil meraih gelar kesarjanaan? Ide apa yang bisa kita kontribusikan dari ilmu yang kita kuasai untuk membangun peradaban islam? Tetapi bagi seluruh umat islam, apapun bidang ilmu yang ditekuninya dan menjadi pakar di dalamnya, satu hal yang harus dievaluasi di dalam diri kita adalah: bagaimana penguasaan kita terhadap ilmu-ilmu islam? Apakah terus bertambah atau justru menurun? Ilmu-ilmu islam akan mengantarkan kita kepada cara hidup yang benar dan mulia, serta menyelamatkan kita di akhirat nanti! Selama ini, apakah kita peduli dan selalu ingin untuk meningkatkannya? Apapun jika bertambah, berpotensi mendatangkan kebaikan dan keburukan, tetapi ilmu agama jika dipahami dengan benar, semakin bertambah hanya mendatangkan sisi kebaikan saja, tidak ada potensi keburukannya 
 
Sisi Wawasan
Ini bermaksud pengetahuan kita yang lebih luas dari sekedar menguasai satu disiplin ilmu tertentu, yaitu wawasan yang terdiri dari berbagai bidang dan informasi yang beredar dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat ini tantangan umat islam semakin kompleks. Umat islam diserang di segala bidang. Umat islam mesti peduli dengan pemikiran-pemikiran dan budaya yang menyebabkan keraguan dengan ajaran islam sendiri. Umat islam mesti sadar tentang informasi makanan halal yang akan dikonsumsinya. Umat islam mesti perhatian dengan perang pemikiran dan isu-isu yang akan memecah persatuan umat. Dan masih banyak lagi informasi lain yang mesti diketahui umat islam.

Sisi Kesehatan Badan
Kita tidak melihat badan dari sisi bagusnya fisik dan cantiknya rupa yang menjadi kebanggaan bagi sebagian orang. Tetapi kita melihat guna badan dalam menopang peran kehambaan kita kepada Allah dan bersosial dengan manusia lainnya. Badan kita adalah amanah dari Allah. Badan kita ibarat kendaraan. Bila kendaraan berfungsi dengan baik, ia akan mengantarkan kita ke tujuan yang kita inginkan. Bila ia rusak, perjalanan terganggu. Badan yang kita punya menjadi kendaraan kita untuk beribadah kepada Allah. Banyak tuntutan syariat yang bisa kita dilaksanakan dengan baik atau kualitasnya lebih baik, jika badan kita sehat. Ibadah shalat, puasa, haji, umrah, adalah contoh ibadah-ibadah yang membutuhkan fisik. Bila ada panggilan jihad, diperlukan badan yang sehat untuk memenuhinya! Mencari harta halal dengan usaha sendiri, juga membutuhkan fisik yang sehat. Apapun pekerjaan kita. Meskipun hanya duduk di depan komputer atau hanya sekedar memencet keypad HP. Untuk bisa menolong orang lain atau masyarakat di sekitar kita, membutuhkan kondisi fisik yang baik juga. Ada baiknya kita perhatikan kondisi badan kita dan tidak ada salahnya melakukan general medical chek up secara medis. Banyak penyakit yang lahir dari perkara-perkara sepele dalam hidup kita. Ada yang bersarang karena pola makan kita yang tidak teratur. Ada penyakit yang menjadi akut karena pola istirahat kita yang tidak bagus. Ada penyakit yang mendiami diri kita karena pola hidup bersih yang tidak terperhatikan. Ada penyakit yang tidak nampak ciri-ciri fisiknya, sehingga kita abaikan saja, suatu saat menjadi penyakit berat yang mengantarkan nyawa kepada kematian.

Sisi Keuangan/Finansial
Di dalam islam tidak salah bila seseorang memiliki harta banyak yang berlimpah ruah. Bukan suatu ketamakan dan celaan yang harus ditakuti. Justru sangat baik bila seorang muslim itu kaya raya dengan asset yang banyak. Kata Nabi “Betapa eloknya harta yang baik dimiliki oleh seorang yang baik”. Bila harta halal dikuasai oleh seorang muslim yang memahami agamanya dengan baik, selain untuk diri dan keluarganya, hartanya akan sangat berdaya guna untuk kemaslahatan umat. Seorang Usman bin Affan pernah membeli sebuah sumur dengan harga mahal, demi terpenuhinya kebutuhan penduduk Madinah terhadap air. Sumur itu sebelumnya miliki seorang Yahudi dan dibisniskan, setiap orang yang akan mengambil air, harus bayar. Setelah dibeli oleh Sayyidina Utsman dan diwakafkan, orang-orang bisa mengambil air dengan gratis dan semua penduduk bisa memanfaatkannya. Jika kita lihat kondisi umat islam hari ini, kita menyaksikan banyak yang tertindas dan tertinggal, diantaranya karena mayoritas umat islam lemah secara ekonomi. Bila kita melihat di sisi yang lain, beberapa negara yang penduduknya mayoritas muslim saat ini sedang berada di tengah prahara perang dan mereka kehilangan asset untuk memenuhi kebutuhan primer. Bila setiap muslim yang kaya menunaikan hak-hak hartanya, seperti menunaikan zakat saja, maka subsidi silang dan permasalahan ekonomi sebagian masyarakat muslim akan berangsur-angsur terurai. Ketika tahun berganti, patut kita memperhatikan dan menghitung sejenak harta-harta yang kita miliki, apakah zakatnya sudah terlaksana dengan benar sesuai kadar yang ditentukan syariat. Karena ini kewajiban yang harus ditunaikan. Nanti di akhirat Allah akan bertanya “dari mana harta engkau dapatkan dan untuk apa engkau gunakan?” Beranikah kita meninggalkan transaksi-transaksi yang mengandung riba? harta yang halal dan jelas-jelas benar cara mendapatkannya dan membelanajakannya, pasti kita pertanggungawabkan di akhirat nanti, apalagi jika ada yang salah atau tidak jelas statusnya. Patut direnungkan juga, jika tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya kita adalah mustahiq (orang-orang yang berhak menerima) zakat, maka di tahun yang baru kita berusaha menjadi muzakki (orang yang menunaikan zakat).

Sisi Keluarga
Seorang bapak adalah kepala rumah tangga yang akan mengarahkan rumah tangga ke suatu arah tertentu. Seorang ibu adalah pendamping yang baik dalam menentukan arah itu. Keluarga yang kita bina adalah tempat kita meraih kebahagiaan dan ketentraman jiwa. Semua kita berharap kelanggengan keluarga, tidak hanya selama hidup bersama-sama di dunia, tetapi berkumpul kembali di surga nanti. Kata Allah di dalam QS: al-Thur: 21: “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dengan keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga)”. Kita akan bisa berkumpul dengan anak keturunan kita di akhirat nanti dengan syarat semuanya beriman. Perlu diperhatikan keshalihan dalam keluarga, sebagai syarat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Maka setiap anggota keluarga perlu bertanya, bagaimana masing-masing kita memerankan fungsi kita sesuai posisi masing-masing dan bagaimana agama di dalam diri setiap anggota keluarga. Apakah suami sudah menjadi imam yang baik, yang memimpin dan membawa keluarganya dengan tuntunan agama. Apakah ibu sudah memerankan peran pendidikan kepada anaknya dengan menanamkan pendidikan islam. Apakah kita termasuk orangtua seperti Nabi Ya’kub yang mengkhawatirkan agama anak-anaknya setelah Ia meninggal. Kekhawatiran Nabi Ya’kub ini direkam oleh al-Quran, Surat al-Baqarah ayat 133: apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kalian sembah (ibadahi) sepeninggalku?”. Maka perlu kita renungi sebuah ayat yang sering kita dengar, QS: al-Tahrim: 6, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Mari kita berupaya meningkatkan keadaan keluarga dari yang sudah baik menjadi lebih baik. Bagi yang belum berkeluarga, ada baiknya segera merencanakan berkeluarga dan berusaha sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.

Sisi Keluarga Besar
Setiap orang berasal dari sebuah keluarga. Setelah dia menikah, keluarga besarnya tetap keluarganya. Tidak ada mantan ayah, tidak ada mantan ibu, tidak ada mantan saudara. Tidak ada mantan kakek, tidak ada mantan nenek, tidak ada mantan paman, tidak ada mantan bibi. Sejauh apapun seseorang merantau, keluarganya tetap keluarganya. Bertukar agamapun seseorang, keluarganya tetap keluarganya. Ia adalah hubungan yang abadi dan menjadi perhatian penting di dalam islam. Perlu kita renungkan bagaimana selama ini kita menjaga dan menghubungkan silaturrahim dengan keluarga besar kita? Apakah kita lebih care untuk menghadiri acara organisasi kebanggaan kita dibanding menjenguk orangtua kita yang sakit? Apakah kita lebih mementingkan menghadiri acara bulanan ikatan perantau dibanding melihat keadaan saudara kandung kita yang sedang berjuang menghidupi keluarganya di perantauan yang sama dengan kita? Apakah kita lebih perhatian dengan model-model terbaru gadget kita dibanding peduli terhadap pendidikan kemenakan kita? Apakah kita merasa lebih perlu merencanakan perjalanan-perjalanan kita keluar negeri dibanding membantu membelikan air susu anak saudara laki-laki kita yang tak sanggup ia beli dengan uang sakunya? Kata Nabi “Orang-orang yang ingin agar usianya panjang dan rezekinya dilapangkan, hendaklah ia menghubungkan silaturrahimnya”
 
Sisi Kemasyarakatan
Siapapun kita, kita adalah orang yang selalu butuh kepada orang lain. Orang-orang terdekat dan kerap kita butuhkan adalah masyarakat yang ada di sekitar kita. Orang-orang yang dekat dengan kita adalah kawan-kawan bergaul kita. Orang-orang yang dekat dengan kita adalah kawan-kawan di tempat kita bekerja. Paling dekat sekali, tetangga kita. Perlu kita memeriksa pola berinteraksi dan berkomunikasi  dengan mereka melalui komunikasi langsung atau komunikasi dunia maya. Perlu kita memeriksa diri untuk melihat peran sosial di tengah- tengah masyarakat tempat kita hidup. Apakah di saat kita selalu makan enak, tetangga kita tidak lagi pernah melalui malam-malam yang panjang dalam keadaan kelaparan?! Apakah di saat kita mampu membangun rumah-rumah besar, mewah, dan megah, tetangga kita tidak ada lagi yang tidak sekolah karena ketidak adaan biayaan atau ketidakpedulian terhadap pendidikan?! Banyak peran sosial yang diamanahkan agama kepada kita. Peran sosial yang tak kalah pentingnya adalah peran amar makruf nahyi mungkar. Bila di suatu masyarakat kita biarkan kerusakan moral merajalela, dampak kerusakan itu akan mengimbas kita sendiri, anak keturunan kita juga. Tidak hanya mengancam orang-orang yang berdosa saja.  

Masih banyak sisi-sisi yang lain dalam kehidupan kita yang perlu kita evaluasi. Silahkan pembaca lanjutkan untuk mengevaluasinya.

Terinsiprasi dari perenungan Dr. Raghib Sarjani.

@putraadventure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s