Jar Of Heart

image

Sebuah kenikmatan yang teramat dalam. Saat sebuah kebutuhan telah aku
laksanakan. Layaknya kenyang, saat orang-orang menelan makanan-makanannya.
Bahkan layaknya tidak akan pernah kenyang. Bagaikan seorang yang memakan-makanan
yang lezat. Tetapi kenikmatanku bukan karena kekenyangan makanan, atau bahkan tidak
menikmati kekenyangan lezatnya makanan-makanan dunia. Tidak, bukan itu semua.
Yang aku nikmati adalah sebuah rasa kenyang dalam ruh, jiwa ini. Yang membuatkan
tidak kenyang adalah lezatnya dalam menyembah, bersimpuh. Pada sang Maha pencipta
kelezatan. Sungguh nikmat.
Aku masih duduk bersila. Menikmati dzikir-dzikirku yang terasa bagai sebuah
candu. Benar-benar sebuah candu. Memang ada benarnya apa yang dikatakan Karl Marx.
Kalaulah Karl Marx, menyatakan agama adalah candu. Maka sesungguhnya Karl Marx
lupa, atau mungkin bahkan Karl Marx tidak tahu. Candu yang diberikan dalam
kenikmatan beragama, merupakan esensi dari kehidupan. Candu yang tidak
memabukkan. Candu yang membuat orang akan terus ingat, tentang perbuatan
keburukannya. Candu yang membuat orang akan terus melakukan perbaikan dalam
dirinya. Candu yang membuat manusia-manusia terlena akan buaian kasih sayang-Nya.
Buaian yang akan membuat manusia ingat, akan ada hari pembalasan bagi
perbuatanannya. Yang membuat manusia, menjadi lebih sempurna. Karena rasa
keimananannya terhadap Tuhannya. Bukan seperti Karl Marx. Yang tidak bertuhan.

Senja memerah, matahari sudah semakin condong kebarat. Menandakan
pergantian masa dan waktu. Saat lama aku berdzikir. Entah apa yang terjadi dalam diriku.
Sebuah hal yang mengingatkanku terhadap janjiku. Janji untuk kembali menjemputmu ku lihat
engkau sudah menunggu di persimpangan sudut semanggi. maaf jika Aku mengedapankan egoku.
ego seorang manusia yang selalu tidak pernah sabar untuk menunggu.maka saat ini Aku harus kembali,
dan mengajak mu mengurai mimpi yang telah kita bangun, layaknya puzzle yang kita rangkau menjadi diorama yang indah
semoga rencana kita sama dengan rencananya,biarkan waktu berkepompong menunggu sang ulat memakan habis dedaunan
hingga sang ulat mencoba untuk terbang dengan kepak sayap yang menawan, mencoba terbang di penghujung senja
waktu yang akan menunjukkan semua rahasianya, yakinkan diri dalam kepantasan menjadi satu dalam cinta

rinai hujan penghujung senja di sudut kota pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s