Inilah

image

“Aku ingin mendengkur bagai ular sawah atau angin di sudut kamar, di tumpukan pakaian kotormu. Mereka hangat, dekat, mendekap, dan masih beraroma kita.”
Di negeri ini dan saat ini, jalanan seolah identik dengan persaingan, brangasan, dan sumbu pendek. Mengalah seolah telah dihapus dari kamus jalanan. Sedikit saja Anda tidak sengaja melakukan kesalahan, maka Anda akan dipencerengi (dipelototi) oleh yang merasa Anda rugikan atau bahkan Anda akan diberi sumpah serapah dengan kata-kata kotor. Lihatlah juga wajah gadis-gadis cantik yang sedang mengendarai sepeda motor di jalanan. Sepertinya, lebih banyak gadis yang bermuka masam dan memasang wajah garang.
Itu semua akibat kita telah memberi makna tertentu untuk kehidupan di jalanan.

Di suatu negeri yang lain, jalanan identik dengan tempat berbagi dan berempati. Tidak ada kata kasar dan umpatan serta sumpah serapah. Ungkapan yang mungkin keluar dari mulut-mulut pengendara di sana adalah “maaf” dan “terimakasih”.
Mengalah adalah kebajikan tertinggi dan dipahami sebagai tanda kemuliaan. Oleh karena itu, Anda akan melihat mobil-mobil berhenti ketika terlihat ada seseorang terutama yang sudah tua atau ibu yang membawa anak-anak berdiri di pinggir jalan, bahkan meskipun mereka tidak hendak menyeberang. Lihatlah, di sana mobil-mobil yang sedang menuruni jalan sempit di pegunungan berhenti di pinggir untuk mendahulukan mobil-mobil yang sedang memanjat tanjakan itu, sedangkan yang didahulukan untuk memanjat tanjakan itu membuka kaca jendela untuk sekedar menyapa dan mengucapkan terimakasih pada yang telah mengalah.
Itu semua akibat mereka telah memberi makna tertentu untuk kehidupan jalanan mereka.

Sesat opini, gagal konteks, dan limbung penyimpulan merupakan sederet problem tuaian bahasa tulisan yang dipicu oleh pembacaan tak tuntas. Membaca sebaris, dua baris, separagraf, sehalaman, lantas menarik kesimpulan, menjadi indikasi serius buruknya kehidupan sang pemalas yang semena-mena; menjadikan kita tak reflektif, reaktif berkesimpulan, dan tergesa berkomentar.
Inilah Indonesia..
negeri yang katanya berbudaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s