Cerita Juni

IMG_20150308_072506.jpg

Juni. Masih menyimpan sedikit tanya akan asaku. Menengadah kepalaku mencari nasehat – nasehat dari kitab kebenaran-Mu. Karena aku tahu tanganku hanya bisa menulis, kakiku hanya bisa menopang dan hatiku hanya bisa bertanya. Kau berlalu pada musim lalu, dan aku hampir lupa bagaimana caramu tertawa dibalik Hijab itu. Namun ceritaku mengkristal dalam harapan yang akan kita perjuangkan bersama, sama-sama saling menguatkan untuk melalui setiap proses yang berat, dan ku selalu mencoba mengingatkanku siapa diriku.

Malam – malam itu selalu mengikat. Mengikatku pada penopang layu, mengikuti gerakku semakin melemah. Para sahabatku berkata jangan menangis di atas lumpur yang mengering, tidak ada rasa sesal di sana. Dan aku masih luka di sini, di mana pun. Terikat pada hati yang aku asa sendiri. Mendongeng pada diri sendiri.

Hei Juni.

Aku hanya belum bisa pahami, bagaimana kau hampir mengambil semua dariku kecuali akal sehat ? Itu saja. Kau masih seperti terik di hari hujan. Hatimu teduh menenggelamkan banyak mimpi. Dan kau yang mulai dikisahkan sejak hari ini, kau tidak akan menyembuhkan apapun, siapapun dan ku kan coba tetap menghadapimu..JUNI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s